Sudah dua hari sejak motorku ku-“ikhlaskan”, aku terpaksa harus merepotkan Christian atau Sonny dengan permintaanku: “ntar gw nebeng ampe lebak bulus ya?”. Berat rasanya meminta tolong seperti itu, tapi sepertinya mereka tidak keberatan. Ini bukan kali pertama aku ngangkot –tentu saja, tapi malam ini ada suatu kejadian yang luar biasa. Bukan sesuatu yang mengerikan, menyenangkan atau berbau mistis dan supranatural, bukan.
Seperti biasa, aku nebeng sampai di perempatan lebak bulus. Seperti biasa pula aku menyebrang diiringi lagu yang mengiring merdu langkahku. Hampir pukul 12, malam ini telingaku disuguhi lagu berjudul ‘Latin Simone’ dari band fiksi Gorillaz, lagu yang nice. Berjalan menyebrangi perempatan yang mulai mati. Kira-kira 20 langkah setelah aku menyebrang, aku sampai dikolong jembatan yang menjadi markas unofficial anak jalanan, pengamen, dan kru Koantas Bima atau Metromini. Sebuah motor supra fit berjalan pelan disampingku.
Aku tak ambil pusing, barangkali hanya penerobos lampu merah yang terjebak ditengah-tengah. Aku tetap berjalan, tapi anehnya dia mengikuti langkahku. Aku terpaksa menengok, sepertinya Si pengendara ingin berbicara denganku.
“Ojek, bos?”, begitu katanya. Aku masih bisa mendengar karena volume earphone-ku tidak terlalu keras.
Aku pasang muka heran karena aku tidak yakin apa yang barusan kudengar.
“Hah?”
“Ojek, bos?”
Sebuah tawaran ojek yang tidak biasanya; di tengah jalan, di kolong jembatan, sambil senyum.
“Ah, nggak! Makasih”
“Ayo, daripada jalan ke terminal!”
“Nggak, bos, makasih!”
Normally, dua terimakasih sudah cukup untuk mengusir salespersons atau ojek-ojek yang biasa mangkal. Tapi tidak yang satu ini. Orang itu tetap mengintilku, kali ini dia mencoba memaksa, sambil senyum. Aku tetap berjalan, berusaha bersikap masa bodo. Aku berfirasat buruk, dia bukan ojek, bajunya cukup rapih, helmnya bagus, bukan bonus.
“Ayo naik, ntar dianterin!”
“Nggak deh!”
“Pulang kemana emang?”
“Ciputat!”
“Ya udah, dua ribu deh!”
What?? Rp. 2000 perak dari Lebak bulus ke Ciputat?? That’s insanely cheap! Angkot aja 3000. jangankan angkot, ojek charter-an saja bisa minta –paling murah- ceban! (Rp.10000). Pikiran negatifku mulai muncul, “hey, jangan! Ini sudah larut malam!”. Ya, malam memang –lebih- mampu menghadirkan sesuatu yang buruk. Aku tak ingin tubuhku diketemukan membiru dan terbujur kaku di selokan tanpa busana, tanpa indentitas dan isi atm yang sudah terkuras. Tidak! Aku tak ingin itu. Sekali lagi ku tolak tawaran itu; lagi pula, aku masih mampu berjalan, dan kehilangan seribu-dua ribu lebih baik daripada-daripada.
“Nggak deh bang!”
“Jangan takut! Gua ga niat buruk!”
Yeah, biarpun dia bilang begitu, aku lebih baik cari aman sajalah. Susah hidup di jaman sekarang; lain di mulut, lain di hati. Sekali lagi ku tolak niat –yang katanya- baik itu, kali ini dengan nada tinggi dan bahasa yang agak kasar. Terpaksa aku lakukan karena kelakuan sopan sudah tidak mempan dan omongan jujur sudah tidak manjur.
“Kaga!”
“Ah payah lo!!”
What the?? Aku cuma bisa melihat motor itu berlalu pergi setelah mengumpatku. Ah, biarlah. Aku kembali berjalan melintasi sebuah perempatan lagi. Kulihat gedung-gedung kokoh Giant dan Carrefour sudah menggelap, menyisakan sebuah pos jaga yang penjaganya tidak sedang berjaga, bahkan matanya kulihat tak terjaga. Aku hanya tersenyum kecil, saat kulihat tukang dvd bajakan kembali mengeluarkan dagangannya karena ada pasangan yang akan memborong.
“BRINN!”, suara klakson yang mulai serak kudengar. Aku menoleh kebelakang, AH! That’s my ride!. Sebuah Daihatsu APV disulap menjadi angkot D01 dengan warna birunya yang khas menghampiriku. Aku segera naik dan langsung duduk di belakang supir yang sedang mengobrol dengan wanita di sebelahnya. Sang supir nampaknya tak begitu tua, kira-kira 30an akhir lah. Kulihat isi angkot hanya seorang ibu dengan paha yang ditiduri anaknya dan pemuda -yang kira-kira umurnya dua atau empat tahun di bawahku- sedang duduk di pojok kanan dan meluruskan kakinya di bangku; bangku itu miliknya seorang malam ini.
Angkot berjalan tidak lambat tapi juga tidak cepat. Lagu ‘Dirty Harry’ masih dari band yang sama berdentum halus ditelingaku. Pikiranku mulai melayang. Aku teringat kejadian saat motorku hilang dicuri orang.
Masih jelas kuingat pagar teras rumah pican, temanku yang terbuka lebar tanpa motorku didalamnya. “Bhe! Gawat, bhe! Motorlu!”, itu teriakan –yang kukira cuma gurauan- pertamanya.
Masih jelas kuingat bagaimana aku keliling jalan tikus disekitar rumah pican untuk mencari motorku ditemani oleh cake. Tentu saja dengan jantung berdegup kencang dan kata explicit yang ku sebut berulang-ulang.
Masih jelas kuingat omongan cranky “udah, balik aja.. patroli udah disebar, polisi udah pada ngumpul disini”.
Masih jelas kuingat prosedur yang berbelit di kantor polisi, berkali-kali ditanyakan hal yang sama, bagaimana, kapan dan dimana. Tapi usaha mereka tetap kuhargai, informasi sekecil apapun tetap kunanti.
Masih jelas kuingat wajah teman kerjaku yang kaget saat mereka mendengar motorku hilang, saat itu juga aku memohon dalam hati “plis, jangan nanya kronologis.. pliss!”.
Masih jelas kuingat ekspresi keluargaku yang tak terduga; aku kira mereka akan mencaci tapi tidak. Mereka hanya berpesan: ikhlas. Thanks guys.
“Kampung utan kiri, ya!”, pinta seorang gadis -yang tanpa kusadari duduk disampngku- kepada supir. Angkot berhenti, si Gadis turun dan membayar. Kuperhatikan wajahnya, Damn! She’s cute!. Angkot kembali melaju, aku hanya bisa memandangi gadis itu, seorang gadis putih manis yang tanpa kusadari telah duduk di sampingku. Kukutuk diriku yang terlarut dalam pikiran masa lalu. Sial! Andai saja aku fokus, setidaknya nomor cellphone-nya telah ku save. Bukan tidak mungkin status single-ku bakal berubah. Sial! Aku kembali menyesal tanpa sadar, aku tersenyum simpul. You and your dreams, Iqbal!.
Ibu dan anak yang tertidur itu ternyata telah turun. Masih ingat dengan pemuda yang meluruskan kakinya di bangku? Dia terlihat panik saat pemberhentiannya terlewatkan. “Bang, kiri, bang!!”, dia berteriak sembari menggedor2 langit-langit angkot. Tentu saja sang supir berhenti mendadak.
“Sori, bang, mustinya saya turun di UIN, kelewatan tapinya”, kata pemuda sambil bayar.
“Lah, emang dari tadi lu ngapain, tong?”, omel sang supir sedikit keki.
Sang supir kembali memacu angkotnya, sebentar lagi giliranku. Aku menyiapkan tiga ribu rupiah, supaya tidak repot merogoh kantong saat turun nanti.
“Apotik?”
“Ya, kiri, ya!”
Ya, aku turun persis didepan Apotik ciputat. Ciputat malam itu cukup terang. Kombinasi bulan purnama dan lampu jalan cukup membuat jalan terlihat aman, tidak seram. Kompetisi selalu ada dimana-mana, begitupun di Ciputat. Tak perduli siang atau malam. Ciputat terkenal dengan kemacetannya. Angkot memang biang keroknya, tapi aku sangat berterima kasih atas kehadirannya malam ini, what a guilty pleasure:).
Di sekitar Apotik tersebar ‘counter-counter’ sepatu aspal dengan pencahayaan cukup menarik laron. Sepatu apa saja, kulit atau sport tersedia disana. Harga termurah 35.000 Rupiah, itu pun masih bisa ditawar. Tapi jangan berharap banyak pada kualitasnya.
Bersebrangan dengan ‘counter’ sepatu, aku mendapati sebuah ‘counter’ dvd bajakan yang masih buka, sesuatu yang jarang. Video live ‘Bang Toyib’ disetel dengan volume keras. Pangkalan ojek yang kulewati seperti tersihir oleh ‘goyangan’ si penyanyi. Mereka berjoget, mereka tertawa. Aku tak disapa.
Aku terus berjalan masuk ke mulut pasar Ciputat, kulihat tukang-tukang buah sedang memilih-milah buah dagangannya dan membuangnya ke jalanan. Pepaya, mangga, pisang, jambu.. hahahaha. Lalat yang biasa tidur saat malam, terpaksa harus bergadang menjilati bangkai buah-buahan yang teronggok layu dijalanan.
Masuk terus kedalam, beberapa pedangang sedang menurunkan sayuran dari sebuah Colt pick-up. Mereka bercakap dalam bahasanya masing-masing, aku hanya mengerti sedikit. Aku masuk lagi lebih kedalam, bau ikan dan ayam mulai merasuki hidungku. Amis sekali! Aku bakar sebatang marlboro light menthol untuk mengusir bau tak sedap itu.
Aku lanjut berjalan ke depan gapura komplek ku. Suara motor kudengar menghampiriku, aku berhenti lalu menengok kebelakang, bermaksud memberi jalan kepada pengendaranya. Tapi motor itu justru berhenti didepanku.
“Ojek bos?”
Shit! Itu orang yang tadi memaksa di kolong jembatan. Apa yang dia lakukan disini? Apakah dia mengikutiku? Jantungku mulai berdegup kencang.
“Nggak, kan, tadi lu udah nawarin gw!”
“Iya, makanya gw berhenti. Nah , sekarang naek deh! Rumahnya dimana?”
Orang itu tersenyum. Aku semakin bingung. Kuperhatikan wajahnya, apakah aku mengenalnya? Tidak! Wajahnya asing dimataku. Aku semakin waspada. Aku semakin tak ingin menurutinya. Bahaya jika ia tahu rumahku. Saat aku terpaku dalam pikiran busukku, orang itu kembali berakrab ria.
“Ayo naek, emang ga cape jalan?”
“Ah, nanggung bos! Bentar lagi juga nyampe! Jalan aja, deh”
“Gapapa, ayo dianterin!” (Damn! Ni orang persistent banget!)
“Gw mo nongkrong dulu di warung temen gw!”, aku terpaksa berbohong.
“Ah, payah lah!”
Akhirnya dia berlalu. Aku bernafas lega. Tapi aku heran, what’s with the smile? Kenapa dia selalu tersenyum? Kenapa arus tersenyum? Dan aku bisa membedakan antara senyum tulus dan bulus. Senyumnya tulus. Senyumnya itu kembali membuatku berpikir, apakah dia betul-betul ojek? Benarkah tidak ada niat buruk?
Aku jadi ragu. Siapa tahu dia benar-benar berniat baik, karena dia butuh uang.
Tapi penampilannya rapih?
Benarkah ia butuh uang?
Tapi 2000 rupiah apa artinya?
Salahkah pikiranku?
Salahkah sikapku?
Sekali lagi pikiran negatifku mulai muncul, “karena ini sudah larut malam!”. Ya, malam memang –lebih- mampu menghadirkan sesuatu yang buruk. Aku tak ingin tubuhku diketemukan membiru dan terbujur kaku di selokan tanpa busana, tanpa indentitas dan isi atm yang sudah terkuras. Tidak! Aku tak ingin itu. Sekali lagi ku tolak tawaran itu; lagi pula, aku masih mampu berjalan, dan kehilangan seribu-dua ribu lebih baik daripada-daripada.
Kubakar sebatang lagi, kuhisap asapnya dalam.
Ojek yang aneh!
Aku kembali berjalan menuju rumah.
Sunday, Feb 05th
Headlines
Solfacorners - Share and Sale
Entertainment - Music - Indie Band - Technology - Creativity - News
Mau profile Indie Band kamu muncul di Solfacorners dapat Hub kami ke Contact us
Twit us http://twitter.com/solfacorners



