Saat ada kabar bahwa Balibo akan tayang di JIFFest, saya berencana menonton. Bersemangat sekali, karena tahun ’99 dulu sempat heboh (ya,saya baru tahu cerita Balibo tahun segitu). Namun, semangat saya tiba-tiba padam, karena teman saya yang di Jakarta mengabari bahwa Balibo batal tayang di JIFFest. Kecewa sekali saya. Padahal pengen banget nonton.
Oke, nggak begitu lama saya mulai melupakan Balibo, ironisnya, saya justru mendapat dvd bajakan (tapi ori)-nya! Waktu itu saya baru keluar dari BIP, di luar BIP ada booth alias lapak dvd bajakan (yang rata-rata kualitasnyanya serong kiri serong kanan) memajang film Balibo. Tanpa pikir panjang, tanpa tawar menawar, tanpa dicoba dulu, saya langsung beli itu dvd. Setelah itu, saya langsung menuju kost-an dan numpang nonton di kamar temen saya (maklum, netbook saya nggak ada dvd ROMnya :p)
Film ini bercerita tentang Invasi Indonesia ke Timor Timur. Kisah berawal ketika Horta mengajak Roger pergi meliput konflik di Timor Leste. Roger berminat karena ingin menemukan lima teman wartawan yang hilang. Roger dan Horta akhirnya dipandu seorang gerilyawan Fretilin.
Selanjutnya, suhu meningkat emosinya hingga film berakhir. Mulai baku tembak tentara dan gerilyawan Fretelin yang membuat lima wartawan teman Roger terjebak dan tewas, hingga pembantaian massal di dermaga oleh tentara, dimana Roger ikut terbunuh. Sepanjang film berlangsung, tak ada simbol TNI, yang ada hanya perkataan bahasa Indonesia.
Film ini pun ditutup menggambarkan kembalinya Horta ke Timor Leste. Tulisan singkat menjadi menutup film Balibo, 'Hingga saat ini para pelaku belum bisa dijerat secara hukum'. Kekuatan cerita Balibo yang demikian yang akhirnya ditakutkan LSF, karena dianggap mampu memicu konflik, Indonesia dan Australia.
Malu, hanya itu perasaan yang mengganjal dalam hati setelah menonton film Balibo ini. Dulu saat Timor Timur ingin memisahkan dari Indonesia, banyak yang menyayangkan. Tapi saya tidak, karena saya berpikir, “Mereka itu (Timor Timur) nggak tahu diuntung, sudah susah-susah diperjuangkan malah mau memisahkan diri”. Tapi setelah menonton filmnya saya jadi memaklumi keinginan mereka.
Keadaan yang digambarkan di film sangat mencekam. Dalam film perang, biasanya adegan ledakan dan penembakan yang membuat jantung berdebar. Namun tidak dalam Balibo. Saat kita melihat bule-bule yang akan dieksekusi itu, emosi kita jadi terintimidasi. Anjrit menjadi kata favorit saya sepanjang film ini berlangsung. Memang, film ini dibuat secara subjektif, hanya dari sudut pandang Australia. Dan itu pun kabarnya banyak pengeditan (ada pemotongan durasi). Tapi, efek yang saya rasakan cukup hebat. Gambaran pada saat itu sepertinya mewakili.
Dari informasi yang saya kumpulkan, kebanyakan pemeran orang Timor di film ini bukanlah bintang film. Mereka orang awam. Tapi acting mereka not bad at all! Dalam film, banyak ibu-ibu dan remaja Timor menggunakan kebaya, ada juga yang pakai batik. Ada yang bisa bahasa Jawa dan sebagainya.
Kenapa? Kenapa film ini di banned? Dilarang tayang di negara kita? Ada yang senang ada yang tidak senang, konfilk pun menyeruak. Saya mengumpulkan beberapa komentar yang merujuk keberadaan film Balibo di Indonesia.
“Kita berterima kasih kalau LSF melarang,” kata Kepala Pusat Penerangan Mabes TNI Marsekal Muda TNI Sagom Tambun saat dihubungi okezone, Rabu (2/12/2009). Dia sempat mendengar cerita kalau isi film karya sutradara Australia Robert Connolly itu berisikan pembunuhan wartawan asing oleh prajurit TNI. "Konon isinya seperti itu. Kalau itu cerita filmnya, itu menjadi tidak benar," sambungnya. Menurut dia, film yang sedianya diputar perdana di Jakarta Foreign Correspondent Club itu akan kembali merenggangkan hubungan diplomatik antara Indonesia-Australia juga Indonesia-Timor Leste. "Kalau diputar bisa menimbulkan ketegangan baru," ujarnya.
"Hari ini baru secara resmi Lembaga Sensor Film memberikan pernyataan penolakan terhadap film Balibo untuk diikutsertakan dalam JIFFest," tegas Ketua LSF, Mukhlis Paimi, saat ditemui di Gedung Film, Jalan Jenderal MT Haryono, Jakarta Selatan, Kamis (3/12). Mukhlis menandaskan penolakan Balibo lantaran adegan yang cukup sadis dan terlalu subyektif dihadirkan sutradara asal Australia, Robert Connolly. "Perlu diketahui, film kontoversial ini dibangun berdasar penuturan lisan dan info lisan itu dibangun atas sudut pandang subyektivitas kelompok tertentu," tegas Mukhlis. "Dan ada satu adegan yang sangat sadis di dalam pembantaian wartawan dalam film itu," tekannya lagi. Meski begitu, Mukhlis tak menampik film Balibo digarap cukup apik. "Saya tidak menampikkan itu sebagai karya seni yang baik, sangat baik, bahkan kejadian yang ditampilkan nyaris sempurna. Tapi sekali lagi itu subyektivitas orang di Australia yang beda dengan subyektivitas orang di Indonesia, sayang obyektivitas belum ketemu sampai sekarang. Balibo ada di ruang abu-abu, belum jelas," pungkasnya.
Apa yang diputuskan LSF disetujui Dewan Perwakilan Rakyat. Ketua Komisi I Kemal Aziz Tambul menegaskan Balibo layak dilarang diputar sebab telah mengorek luka lama bangsa Indonesia. "Itu adalah hal-hal yang mencuatkan luka lama, sebaiknya dihindari dan saya pikir kalau mereka mengangkat itu tidak pada tempatnya," ujarnya di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/12). Menurut Kemal, pelarangan film itu sudah selayaknya. LSF punya alasan kuat. "Saya kira, pelarangan film itu sendiri untuk menutup luka lama yang bisa muncul bila film itu diputar di masyarakat. Saya yakin LSF sudah punya standarnya sendiri. Kalau yang bisa mengakibatkan luka lama ya tidak perlu," katanya. Kemal juga menyatakan, meski telah melukai masyarakat dan NKRI, pemerintah tidak perlu menuntut Australia minta maaf atas tayangnya film itu di dunia internasional. "Pemerintah tidak perlu menuntut permintaan maaf, karena dengan dilarangnya film ini sudah cukup," pungkasnya.
Departemen Luar Negeri pun menyampaikan kesamaannya. Juru bicara Deplu, Teuku Faizasyah mengatakan, fakta Balibo hanya satu sisi saja, yakni Australia. Karena itulah, Deplu menilai itu tidak memiliki keberimbangan sejarah. "Kita mengikuti dari resensi film. Ini berangkat dari novel yang bercerita dari satu sisi saja. Mengapa kita menciptakan satu sejarah berdasarkan satu novel? Soal itu, LSF pasti punya kriteria tersendiri mengenai film-film yang dilarangnya," ujar Faizasyah.
Pelarangan itu jelas disayangkan JiFFest 2009. Namun, JiFFest berusaha keras agar tetap bisa memutarnya. "Kita akan propose ke LSF supaya film ini bisa diputar sekali, kita berniat mengajak pihak terkait menyaksikan bersama-sama. Mereka cuma bilang kalau film ini nggak bisa diputar," ujar Festival Director JiFFest 2009 Lalu Roisamri.
Keresahan itu didukung Dewan Pers. Sabam Leo Batubara, anggota Dewan Pers mengatakan, "Kenapa harus dilarang. Harusnya pemerintah melakukan transparansi, fakta dan kebenaran. Itu kan hanya film, tidak bisa dijadikan menjadi sebuah fakta." Sabam menegaskan, masyarakat sekarang sudah cerdas, bisa membedakan mana yang benar, dan salah. Jadi, lanjutnya, tidak perlu takut ketahanan nasional terganggu. "Ketahanan akan tercipta jika transparansi ada. Jadi tidak perlu ditakutkan agenda lain (propaganda) yang muncul dibalik film tersebut," ujar Leo.
Sutarada film Cau Bau Kan Nia Dinata juga berkeyakinan sama. Ia memprotes kenapa Balibo harus dilarang penayangannya di Indonesia. "Film itu nggak bisa dilihat sepotong-sepotong. Harusnya lembaga sensor memperlakukan film itu dengan dewasa. Lagi pula isu Timor Leste sudah jadi isu dunia, jadi sangat disayangkan. Harusnya sudah nggak ada larangan lagi, penonton sekarang sudah pintar," jelas Nia Dinata, saat ditemui di Jl. Hang Tuah, Jakarta Selatan, Rabu (2/12). Ia berharap Lembaga Sensor Film bisa lebih bijaksana dalam memutukan film itu layak sensor atau tidak. "Saya sangat nggak setuju film Balibo dilarang tayang kerena saya pengusung kebebasan berekspresi dan anti sensor," tegasnya. "Kalau pemerintah Indonesia merasa terpojok, bikin lagi saja film balasannya".
Oke, terlepas dari politik yang membalut ketat Balibo. Toh, filmnya bagus. Yang saya sayangkan, kenapa film bagus justru di banned? Sementara film horror kacangan dan film komedi sex banyak berkeliaran? Haduh.. Malu deh bo!
Official Trailer Balibo


