
"Iya, gw inget banget dulu di cupu! Sekarang jadi cantik ya?"
"Lain dulu lain sekarang lah. Eh, lu masih suka ketemu sama Yoan?"
"Nggak tuh, semenjak lulus gw udah nggak pernah ketemu dia lagi, kenapa emang?"
"Gw liat statusnya di FB, kayaknya sih lagi di luar negeri gitu, tau deh bener apa nggak"
"Ooo, waktu itu nyokapnya cerita ama nyokap gw, katanya Yoan emang kerja di kapal pesiar"
"Wah, enak ya? bisa traveling terus, Eh iya! Lu gawe di Restoran ya?"
"Yaaa gitu deh, hehehe"
"Sayang banget, sih? Kuliah DKV kok malah kerja di restoran?"
"Yaaa.. Panggilan batin! Gw emang tertarik di design tapi kalo di jadiin kerjaan kayaknya mumet tuh! hahaha"
"Ah, gaya lu! Eh, tu Joseph baru dateng!"
Cih, sebal sekali melihat mereka yang tertawa.
Sudah seperti reuni saja.
Tidak pahamkah mereka? Mereka sedang di rumah duka!
Apa tujuan mereka kemari?
Membaca tahlil atau melepas rindu?
Apakah tak ada dalam pikiran mereka kenangan bersama almarhum abangku?
Ya, pagi tadi kabar buruk sampai lewat telepon. Ibuku yang menerima. Beliau langsung menjerit histeris lalu jatuh pingsan setelah menerima kabar dari rumah sakit. Kabar bahwa abangku tewas dalam kecelakaan saat dalam perjalanan menuju kantor. Lututku pun lemas saat Pak Nasir, wali kelasku mengabarkan duka itu di luar kelas. Aku langsung berlari ke pelataran parkir, mengambil sepeda dan mengayuh sekuat tenaga supaya cepat sampai di rumah. Sesampainya aku, rumah telah ramai. Gemuruh Ayat Suci menggoyang hatiku. Isak tangis histeris yang kukenal menyelip tipis diantara gemuruh berat itu. Aku melihat Ibuku sedang menangis pasrah di samping jenazah. Ayahku hanya memandang lesu saat melihatku datang dengan napas memburu lalu membisu.
Aku terpana, melihat mayat terbaring di sana. Tanpa kurasa aku sudah berada dalam pelukan kedua orang tuaku. Lelehan air mata ibuku turut membasahi pipiku. Aku terdiam. Bayangan abangku melesat cepat memenuhi pikiran. Aku terdiam. Aku menangis.
Katanya abangku tewas karena tersenggol metro mini yang buas. Terpental dari motornya dan tergulingnya menghantam trotoar. Kepalanya hancur, maka itu kerabatku melarang untuk melihat wajahnya. Tidak tega katanya. Aku hanya bisa mencium tangannya. Aku menangis tanpa suara di sisinya. Mencoba mengikhlaskan kepergiannya.
Selepas Dzuhur orang-orang mulai berdatangan. Semua yang kenal abangku datang melawat. Kami menunggu kedatangan saudara yang lain sebelum mengubur jasad. Lepas Ashar baru di kubur. Orang yang datang hari ini sepertinya memberi kabar kepergian abangku ke teman yang lain. Ada yang menelpon langsung, ada yang mengetik sms dan lain-lain. Aku senang, ini artinya akan banyak orang yang akan turut mendoakan abangku.
Malam harinya, setelah Isya, Acara tahlilan dimulai. Orang yang kumpul semakin banyak. Lebih banyak dari tadi siang. Tetangga, saudara dan kerabat dekat ikut membantu melancarkan acara. Aku tersentuh melihat kegiatan mereka. Aku hanya bisa membantu mengedarkan makanan, minuman dan rokok ke pelawat yang tidak kebagian tempat di dalam rumah. Ya, sungguh ramai malam itu. Aku pun tak tahu kapan itu tenda terpal dan kursi lipat sudah tersusun rapih di depan rumahku, memanjang sampai tiga rumah tetanggaku.
Setelah tahlil selesai, aku memulai tugasku. Aku mulai mengedarkan makanan dan lainnya kepada para pelawat. Aku mulai dari dalam lalu keluar rumah. Aku terperangah saat mengedar ke luar rumah. Wajah murung yang banyak kulihat di dalam rumah tak ku jumpai di luar. Mereka mengobrol santai. Bersenda gurau dan tertawa lepas. Lucunya, saat aku mendekat mengedarkan, wajah mereka berubah seketika. Aku geram. Aku paham kalau mereka tak sengaja melepas rindu di acara tahlil ini. Tapi mengapa harus akting? Tak tahukah mereka kalau aku sedang terpukul? Tertawa mereka seperti tertuju padaku. Aku benar-benar geram!
Akhirnya aku malas-malasan mengedarkan makanan, minuman dan lainnya keluar rumah. Biar saja mereka ambil sendiri. Biar mereka melihat air muka dari kedua orang tuaku. Tapi sepertinya mereka tak mengerti. Tetap saja gelak tawa terdengar meskipun mereka tahan-tahan. Aku pun segera mengucap sumpah, semoga mereka merasakan apa yang aku rasakan. Sumpah yang ku ucapkan tanpa sadar, tanpa pikir lebar.
Setahun kemudian semua berjalan seperti biasa. Aku dan kedua orang tuaku mulai terbiasa menjalani hari-hari tanpa kehadiran abangku. Motor abangku yang dulu rusak karena kecelakaan pun telah diperbaiki dan kupakai sebagai transportasi ke kampus. Ya, aku baru saja mulai kuliah. Kampusku cukup jauh dari rumah, dan aku tak ingin meninggalkan orang tuaku. Aku memutuskan mereparasi motor abangku daripada indekos. Setidaknya aku bisa membantu orang tuaku menghemat biaya.
Aku bekerja paruh waktu sebagai pelayan di sebuah Coffee Shop. Hanya untuk mengisi waktu luangku saja. Ayah dan ibuku memang masih bekerja. Tapi aku bertekad ingin mandiri selepas lulus sekolah. Maka, bekerjalah aku. Untuk uang jajanku sendiri. Meski gajinya tak terlalu besar, karena aku part-timer, tapi lumayanlah. Sudah 5 bulan aku menjalani kuliah sambil kerja. Otomatis aku tidak bisa leyeh-leyeh, kumpul-kumpul bersama teman-temanku. Tapi untungnya sudah ada Internet dan Facebook. Jadi, meskipun mereka jauh, aku tetap bisa berhubungan dengan teman-temanku.
Suatu ketika, setelah pulang kerja, aku menyempatkan diri ke warnet untuk memeriksa E-mail dan Facebook. Ada pesan didalam mailbox-ku. Berita duka cita. Temanku satu geng semasa sekolah, Bruno, telah meninggal dunia karena komplikasi lambung. Aku tak percaya berita itu. Segera ku contact Joseph yang juga teman satu geng-ku, kebetulan namanya aktif di dalam Yahoo Messenger, ia membenarkan kabar itu. Setelah chatting secukupnya, kami sepakat datang kerumahnya malam itu untuk tahlil karena jenazahnya telah dikubur siang hari.
Sesampainya di rumah Bruno, aku melihat wajah-wajah akrab yang sedang berduka. Aku memeluk kedua orang tua Bruno. Sebagai orang yang pernah kehilangan, Aku sangat paham perasaan mereka. Lalu aku ikut membaca tahlil. Setelah selesai, aku mendengar suara Sugeng, teman semejaku saat di sekolah dulu. Satu setengah tahun tak bertemu membuat rindu menggebu.
"Oh My God! Sugeng! pakabar lu?"
"Weis, baik, man! lu sendiri gimana? Wah, gondrong nih sekarang?"
"Hahaha.. Iya lah! di sekolah mana boleh? Eh, potolu di Fb sama Intan ya?"
"Haha.. Nggak nyangka ya dia jadi cantik gitu?"
"Iya, gw inget banget dulu di cupu! Sekarang jadi cantik ya?"
"Lain dulu lain sekarang lah. Eh, lu masih suka ketemu sama Yoan?"
"Nggak tuh, semenjak lulus gw udah nggak pernah ketemu dia lagi, kenapa emang?"
"Gw liat statusnya di FB, kayaknya sih lagi di luar negeri gitu, tau deh bener apa nggak"
"Ooo, waktu itu nyokapnya cerita ama nyokap gw, katanya Yoan emang kerja di kapal pesiar"
"Wah, enak ya? bisa traveling terus, Eh iya! Lu gawe di Restoran ya?"
"Yaaa gitu deh, hehehe"
"Sayang banget, sih? Kuliah DKV kok malah kerja di restoran?"
"Yaaa.. Panggilan batin! Gw emang tertarik di design tapi kalo di jadiin kerjaan kayaknya mumet tuh! hahaha"
"Ah, gaya lu! Eh, tuh Joseph baru dateng!"
Saat aku larut dalam excitement, hati kecilku berbisik, "Bukankah ini reuni seperti yang dulu membuatmu geram lalu kau sumpahi? Siapa yang kau sumpahi? Siapa menjadi siapa?"
Ah, aku mematung. Tanpa sadar aku menjadi orang yang dulu ku benci. Tanpa sadar aku tertawa di atas tangis orang lain. Aku membenci siapa?
Aku dan mulut besarku.
| Comments |
|
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||
|
||||||||


