Karena Cinta
Pelataran parkir gedung Fakultas Tehnik, Jum’at jam 13.10.
Weni sedang berjalan menuju mobilnya yang terparkir di ujung area parkir. Tempat itu sepi. Hanya ada beberapa mobil dan sepeda motor yang terparkir. Dari kejauhan Weni melihat dua sosok yang begitu dikenalnya. Dua orang berkulit putih. Yang laki-laki tingginya nyaris 180-an, berambut pendek rapi, mengenakan kemeja kotak-kotak biru putih dan celana denim biru pucat. Dia bersandar di badan mobil Avanza warna silver dengan tangan kirinya memegangi pintu mobil. Yang perempuan kira-kira setinggi Weni, tidak sampai 170cm, menyandang tas bahu berwarna emas dan di tangannya ada setumpukan buku tebal. Tubuhnya yang langsing mengenakan kardigan ungu muda dan celana ¾ berwarna hitam. Weni yakin 100%. Itu Rudi dengan Miranda.
Mereka ngobrol tidak jauh dari mobil Rudi. Kelihatannya Miranda tadi yang mencari Rudi mengingat Miranda adalah anak akuntansi, gedungnya ada di seberang sana, di dekat gedung perpustakaan. Untuk apa Miranda jauh-jauh mencarinya ke sini? Bukannya mereka bisa bertemu kapan saja di tempat yang lebih baik yang mereka mau? Mereka terlihat sangat serius dan hal itu membuat Weni penasaran. Dia memelankan langkahnya dan mengendap-endap berlindung di pilar besar tidak jauh dari mereka, di samping mobilnya. Profil tubuhnya yang tidak terlalu besar bisa tersembunyi dengan sempurna di balik pilar bercat krem itu.
”Jadi kamu sudah benar-benar bulat ingin ke Belanda?” Miranda bertanya, suaranya terdengar serak seperti orang berbisik.
”Kamu tahu, kan, Mir. Sejak dulu aku sudah bercita-cita ingin kuliah di sana.” Rudi menjawab. ”Aku bahkan sampai menentang keinginan orangtuaku yang ingin aku mengambil sekolah bisnis di Singapura.”
”Ya, aku tahu.”
Weni masih menguping pembicaraannya. Dia tidak tahu bagaimana ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka saat itu.
”Aku hanya tidak sanggup memikirkan apa yang akan terjadi padaku jika kamu tidak ada di sini. Sementara setiap hari perutku akan semakin terlihat besar,” Miranda melanjutkannya. Weni terhenyak. Dia hampir memekik.
”Miranda hamil?” Bathinnya.
”Tapi aku sudah mengurus semuanya, Mir. Proses transfer sudah beres. Universitas di sana sudah menerimaku. Aku juga sudah mendapat apartemen bagus untuk tempat tinggalku selama di sana. Paling tidak dalam beberapa minggu ini aku sudah harus berada di sana.”
Hening selama beberapa saat.
”Lalu bagaimana dengan aku?” Suara Miranda terdengar lagi.
Kemudian hening lagi.
”Baiklah, aku akan memikirkannya lagi.”
Weni tercenung dibalik pilar.
”Sekarang kamu pulang dan tenangkan dirimu. Aku akan menelponmu nanti malam.” Kata Rudi kemudian.
Weni perlahan berjalan menuju mobilnya yang hanya berjarak kurang dari 2 meter dari pilar tempatnya bersembunyi tadi. Dia menghidupkan mesinnya perlahan lalu mengendarainya menjauhi pelataran parkir. Pikirannya tertuju pada Tina, sahabatnya, yang juga mantan kekasih Rudi.
”Ada apa sih dengan gadis-gadis cantik yang ada di sekitarku? Kenapa mereka semua bisa jatuh cinta pada Rudi?” Pikirnya heran sambil membelokkan mobilnya menuju pintu keluar parkir. ”Rudi juga, apa yang sudah dia lakukan pada gadis-gadis itu? Untungnya Tina sudah putus dengannya.”

”Aku tidak akan bercanda untuk hal seperti ini,” Ujar Weni kesal melihat reaksi Tina yang seolah tidak mendengar apa-apa. Dia hanya menggumam tidak jelas sebentar, lalu kembali asyik menekuni halaman demi halaman majalah Cosmopolitan edisi terbaru yang ada di depannya sambil tiduran. Tina yang saat itu mengenakan kaos oblong putih dan celana coklat selutut sama sekali tidak serius menanggapi Weni yang wajahnya kusut setelah seharian beraktivitas di luar.
”Aku dengar sendiri Miranda mengatakan dirinya sedang hamil dan meminta Rudi untuk menunda keberangkatannya ke Belanda.” Kata Weni lagi sambil merapikan rambutnya. ”Tapi Rudi sepertinya keberatan. Dasar cowok, kalau sudah kena getahnya begini maunya melarikan diri. Tidak mau bertanggung jawab. Emang sebelumnya dia nggak mikir resikonya.
”So what? Aku toh sudah putus dengannya.”
”Ya, maybe kamu ingin tahu. Setidaknya dia pernah menjadi bagian dari hidupmu,”
Tina menggigit bibirnya pelan.
”Rudi itu anaknya baik banget, kok.”
”Tentu saja, karena kamu pernah tergila-gila padanya. Untung kalian sudah putus. Kalau tidak, mungkin kamu yang akan mengalami nasib seperti Miranda sekarang. Lagipula, bisa-bisanya kamu membela cowok yang sudah meninggalkanmu demi cewek lain?”
”Sampai sekarang perasaanku padanya masih sama, kalau boleh jujur.” Kata Tina santai. Matanya yang lebar menunjukkan ekspresi tenang. Dia menutup majalahnya lalu bangkit duduk di tepi ranjang, di samping Tina. ”Dia sangat menghargai cewek. Selama menjadi pacarnya, dia nggak pernah meminta, apalagi memaksaku melakukan sesuatu diluar batas. Kamu nggak kenal dia.” Katanya dengan nada meyakinkan.
”Mungkin itu sebabnya kalian putus. Karena kamu tidak bisa diapa-apakan.” Weni tertawa dengan maksud bercanda.
Tina tersenyum, mendekati Weni dan menepuk pundaknya. ”Kami putus karena beda etnis, dia Chinese dan aku Javanese, itu aja.” Ujarnya setengah bercanda. ”Kamu kebanyakan membaca novel ’kali. Mungkin Miranda memang hamil, tapi itu bukan perbuatan Rudi. Aku percaya padanya. Sudahlah, aku nggak mau membahasnya lagi.”
Weni angkat bahu. ”Ya terserah kamu, deh. Aku cuma menceritakan apa yang aku dengar. Aku juga nggak ada urusan apa-apa dengan hal ini. Aku hanya peduli padamu karena kamu sahabatku. Kamu nggak pantas mengharapkan cowok seperti dia. Fisiknya aja yang sempurna, tapi hatinya culas dan brengsek. Kalau dia tidak pernah pacaran dengan kamu mungkin aku juga akan tertipu dengan tampang dan penampilannya itu.”
”Kamu mau bilang kalau kamu juga pernah naksir dia?” Goda Tina. Weni mendengus dan menimpuknya dengan bantal. Tina menghindarinya dengan gesit.
Tina lalu beranjak menuju ke depan cermin rias. Dia menatap wajahnya di sana. Tina berdarah jawa tulen. Wajahnya bulat telur dengan hidung mancung dan tulang pipi yang sedikit menonjol. Rambutnya hitam sebahu. Matanya lebar indah dengan bulu mata yang lentik alami. Kulitnya kuning langsat dan terawat.
”Kalau dipikir-pikir, emangnya aku kurang apa, ya?” Tina masih menatap bayangan dirinya di depan cermin. ”Aku cantik, pintar dan berkepribadian juga. Untuk menjadi Miss Universe saja modalku uda lebih dari cukup, dunia internasional bakal menerimaku, tapi kenapa untuk diterima menjadi menantu keluarganya Rudi saja susah banget?” Ujarnya setengah mengeluh. Weni hanya mengamatinya dengan prihatin. Hubungan Tina dengan Rudi memang ditentang keras oleh keluarga besar Rudi. Rudi berasal dari keluarga berdarah China yang sangat mapan secara ekonomi. Sedangkan Tina hanya anak seorang pribumi yang berprofesi sebagai pegawai negeri. Rudi pernah mengatakan kepada Tina dia didoktrin untuk hanya menikahi gadis China juga. Namun dia tidak bisa menipu perasaannya yang telanjur jatuh cinta pada Tina.
Awalnya mereka menjalin hubungan itu dengan sembunyi-sembunyi, Rudi tidak pernah membawa Tina ke rumahnya. Baru setelah berjalan hampir setengah tahun Tina dikenalkannya pada orang tuanya. Baik Rudi maupun Tina tidak menyangka reaksi orangtua Rudi begitu keras. Mereka mengancam akan mengusir Rudi dan keluarga besarnya tidak akan mengakuinya sebagai anggota keluarga jika Rudi berkeras melanjutkan hubungannya dengan Tina. Padahal, Tina yang saat itu baru berusia 19 tahun sama sekali tidak ada terfikir untuk menikah. Dia hanya menjalani hubungan tersebut sekedar untuk have fun. Dan, akhirnya mereka memilih untuk bubar karena keduanya tidak tahan terhadap tekanan tersebut. Itu yang diketahui Weni yang telah berteman dengan Tina sejak menjadi mahasiswa baru dua tahun lalu. Menurutnya itu sangat tidak praktis. Kenapa untuk mencintai satu orang saja harus menghadapi perkara yang ribet seperti itu.
”Kamu tahu, tidak? Mereka selalu membawa-bawa kesalahan pemerintah kita pada masa lalu yang telah mendiskriminasikan kaum mereka.” Kata Tina lagi. ”Memangnya aku tahu apa soal itu? Aku bahkan belum lahir pada tahun 1966 ketika PP Anti China itu dibuat, atau ketika ada kejadian rapat besar di Lapangan Banteng.”
Weni jadi geli mendengarnya. ”Tapi ada sisi positifnya kamu pacaran dengan Rudi, kamu jadi pintar sejarah,” Katanya sambil tertawa. ”Kenapa kamu nggak pindah jurusan aja, Non?” Lanjutnya.
”Please, deh. Kamu ngomong apa, sih?” Tina cemberut. Masih duduk di depan cermin riasnya.
”Oh, ya. Bagaimana, kamu jadi mengikuti pemilihan model tahun ini?” Tanya Weni berusaha mengalihkan perhatian Tina. Gadis itu mengangguk pelan.
”Pasti,” Ucapnya mantap, seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. Lalu dia mengalihkan pandangannya lagi kepada Weni dan beranjak dari tempatnya semula. ”Wen, aku mau pulang nanti sore. Kamu mau dibawakan apa dari Malang?”
”Apa ya? Apel uda sering. Bakso Malang di sini banyak yang jual.”
”Buruan sebelum aku berubah pikiran,” Tina mengemasi beberapa potong baju dari lemarinya.
”Hmm... bawain cowok Malang aja ya. Kayanya mereka imut banget deh.”
”Huuuuuuuuuh... nggak cukup ya punya pacar satu? Apa dunk bedanya kamu dengan Rudi yang kamu caci maki sejak tadi?”
***
Weni sudah melupakan percakapan Miranda dengan Rudi yang sempat dia dengar di pelataran parkir kampus hari Jum’at lalu. Dia juga sudah tidak ingat telah memberitahu Tina tentang percakapan mereka. Dia cuma merasa sedikit aneh ketika Rudi tidak mengikuti kuliah pada hari Senin. Selama ini Rudi sangat tepat waktu. Jangankan absen, terlambat saja hampir tidak pernah. Itu adalah salah satu sifat positif Rudi yang disukainya, terlepas dia memiliki reputasi buruk di mata Weni untuk urusan asmara. Hanya, Miranda agak murung siang itu saat Weni tidak sengaja bertemu dengannya di perpustakaan. Memang dia tidak mengenal Miranda secara langsung, dia hanya mengenalnya dari cerita Tina dan pernah beberapa kali berpapasan dan ngobrol basa-basi. Bagaimanapun mereka mengenal orang yang sama, Tina dan Rudi. Samalah dengan mutual friends di facebook.
Menurut Tina, Miranda itu sebenarnya gadis yang baik tapi Tina tidak terlalu menyukainya karena dia sangat dekat dengan Rudi. Apalagi sejak dia pindah ke kampus yang sama dengan mereka. Sebelumnya Miranda tinggal di Manado bersama orangtuanya, dan kuliah di sana. Namun sejak tahun lalu dia pindah ke sini. Miranda seperti gadis china pada umumnya, kulitnya putih pucat dan matanya sipit. Rambutnya yang panjang dan hitam berponi sangat kontras jika dibandingkan dengan kulitnya.
Weni kemudian berfikir mungkin Rudi tengah mempersiapkan kepindahannya ke Belanda, yang kalau dia tidak salah dengar adalah bulan depan. Dia jadi kasihan melihat kemurungan Miranda. Siapa yang tidak sedih kalau pacarnya kabur dan tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dia kembali disibukkan oleh tugas di kampus yang menyita waktu hingga
Namun, hari selasa pagi itu. Mobilnya berhenti di depan lampu merah di dekat kampusnya, seorang anak jalanan mengelap kaca depan mobilnya. Weni membuka kaca jendela mobilnya hendak memberikan uang receh pada anak tersebut. Lalu seorang bocah lain datang dan menyodorkan koran padanya.
”Rudi, anak tunggal pengusaha properti terkaya di Indonesia tewas dibunuh, Bu.”
Weni mengerutkan keningnya, nama Rudi memang jumlahnya jutaan di Indonesia. Tapi tidak semuanya anak pengusaha properti, ’kan?
”Rudi yang kuliah di kampus itu?” Weni menunjuk kampusnya yang hanya sekitar 100 meter dari tempat mobilnya berhenti.
Anak itu mengangguk. Memang, siapa yang tidak mengenal Rudi dan keluarganya? Itu membuat Weni semakin penasaran. Di kampus ini hanya ada satu Rudi dengan identifikasi seperti itu ”Iya, menurut koran ini dia kuliah di situ.”
Weni segera mengambil koran itu dan menyodorkan selembar lima ribuan tanpa meminta uang kembalian. Anak itu mengucapkan terima kasih beberapa kali.
”Beritanya ada di halaman metropolis, Bu,” Ujar si penjual koran sebelum Weni menutup kembali kaca mobilnya. Lampu hijau sudah menyala, dan Weni mengendarai mobilnya dengan perasaan tidak enak sambil membuka halaman metropolis koran itu. Ada berita tentang anak pengusaha properti yang ditemukan tewas di dekat perkampungan nelayan. Di insertnya ada foto korban semasa hidup. Tidak butuh waktu lama bagi Weni untuk mengenali wajah di foto itu. Itu adalah Rudi. Orang yang sangat dia kenal sebagai mantan kekasih sahabatnya.
”Ini tidak mungkin.” Batinnya setelah membaca berita tersebut di koran. Rudi telah meninggal, mayatnya ditemukan nelayan di laut dan mobilnya dibakar. Dugaan sementara polisi, motifnya dendam dan korban sudah mengenal pelaku. Karena dompet dan Hpnya masih ada di saku celana Rudi. Semua kartu debet, kartu kredit dan uang cash yang ada di dompet masih ada. Rudi diperkirakan dibunuh pada Sabtu sore atau Minggu pagi. Mayatnya baru ditemukan pada Senin pagi mengambang di pinggir pantai.
Tidak hanya Weni, seisi kampus juga geger. Hampir di tiap sudut universitas bisa ditemui beberapa mahasiswa bergerombol sambil perhatiannya tertuju pada koran. Semua ramai membicarakan peristiwa tragis tersebut. Banyak yang merasa kehilangan dan tidak kuasa menahan kesedihannya, terutama para mahasiswa yang sejurusan dengannya. Weni bahkan melihat beberapa rekannya yang laki-laki juga menangis. Selain sebagai mahasiswa berbakat dengan berbagai prestasi akademik dan olahraga, orang tua Rudi adalah seorang pengusaha properti yang punya nama besar di Indonesia. Dan, dia adalah anak tunggal. Banyak spekulasi yang berkembang seputar kematiannya. Weni melihat kampusnya juga dipenuhi petugas dan beberapa orang dengan membawa kamera. Sudah bisa dipastikan mereka adalah wartawan.
Tiba-tiba Weni teringat percakapan yang pernah dia dengar antara Rudi dengan Miranda empat hari lalu. Miranda hamil dan Rudi tidak mau bertanggung jawab. Rudi malah akan pergi ke Belanda. Weni terhenyak dari lamunannya. Dia mencengkeram loose leaf yang ada di pangkuannya.
”Ya, Tuhan.... Jangan-jangan....?” Weni ketakutan sendiri membayangkan kemungkinan bahwa Miranda telah membunuh kekasihnya sendiri. Ketika Weni dan teman-teman datang ke rumah Rudi untuk memberi penghormatan terakhir, dia melihat ada Miranda di situ. Berbaur dengan keluarga Rudi dan mereka terlihat akrab satu sama lain. Sambil memandang sejenak foto Rudi yang terpasang di atas meja di dekat peti matinya Weni berfikir mungkin Miranda bisa lebih diterima oleh keluarga itu karena mereka berasal dari ras yang sama. Kemudian mata Weni tertuju pada Miranda. Dia mengenakan pakaian berkabung a la Tionghoa dan kaca mata hitam. Dia terlihat sangat cantik dan terluka. Ada bekas-bekas air mata yang belum kering di wajahnya. Tapi Weni berani bertaruh, itu adalah airmata palsu. Dia pura-pura berduka untuk menutupi dosanya. Atau mungkin dia menyesali perbuatannya namun tidak berani mengaku.
”Bagaimana mungkin kamu bisa berakting sebagai korban, padahal kamulah pelakunya,”
Weni memikirkan lagi sahabatnya, Tina. Dia pasti akan sangat terluka. Apakah dia sudah mengetahui hal ini? Dia belum kembali ke tempat kost setelah pamit pulang ke Malang akhir pekan lalu. Dia sudah menelpon Weni dan memberitahu kalau dia akan kembali hari Kamis karena ibunya sedang kurang sehat.
***
”Kamu yakin Miranda pelakunya?” Tanya Tina sambil mencomot sepotong lumpia dari piring yang dipegang Weni dan langsung melahapnya dengan berdiri.
”Aduh, gini kok mau jadi model Indonesia? Behaviournya jelek banget gitu. Makan pake tangan kanan dan duduk, Sayang....” Kata Weni sambil geleng-geleng kepala. Dia lalu meletakkan piringnya di meja yang ada di samping tempat tidur. Kemudian dia meraih Hpnya yang terletak di samping piring.
”Kalau di depan umum emang harus jaim, menjaga sikap agar tetap terlihat anggun. Tapi kalau di rumah ’kan bebas be myself. Emang kamu pikir artis-artis itu juga selalu terlihat anggun saat lagi tidak disorot kamera? Kita ’kan juga manusia.” Ujarnya diiringi derai tawa.
”Ada kemungkinan mengarah ke situ. Menurut koran, motifnya adalah dendam dan korban sudah mengenal pelaku dengan baik. ” Kata Weni sambil tangan kirinya memencet-mencet tombol HP sementara tangannya memegang lumpia yang masih sisa separoh.
”Dan, Miranda punya alasan untuk membunuhnya karena Rudi tidak mau bertanggung jawab atas kehamilannya?” Tanya Tina menanggapi dugaan Weni.
”Betul,” Kata Weni sambil mengangguk dan menelan habis sisa lumpianya. Sesaat kemudian dia terdengar mengumpat pelan gara-gara pesan singkatnya terkirim ke nomor yang salah.
”Weni... Weni... makanya konsentrasi. Jadi pesannya nyampai ke orang yang tepat.” Tina tertawa lagi. Tawanya terdengar polos dan natural. ”Kayanya kamu dulu salah jurusan deh. Mestinya kamu masuk fakultas Hukum lalu jadi polisi, kerja untuk BIN atau CIA, atau sekalian Mosad aja, bukannya masuk Fakultas Tehnik dan gabung dengan cowok-cowok dekil yang nggak pernah mandi.” Lanjutnya.
”Halah, tapi kamu juga tergila-gila sama Rudi yang anak teknik.”
”Jangan samakan Rudi dengan yang lain.”
Weni tidak menyahut, kelihatannya dia tengah memikirkan sesuatu.
”Sepertinya aku harus memberi tahu polisi, Tin.” Katanya kemudian.
Tina terhenyak kaget. ”Melaporkan Miranda?”
Weni menggeleng. ”Hanya memberi kesaksian, memberitahu apa yang kudengar sebelum Rudi ditemukan tewas. Itu ’kan saat-saat penting yang terjadi sebelum hari naas itu. Setidaknya dengan begitu polisi memiliki petunjuk untuk mengarahkan penyidikan.”
”Sama aja. Secara tidak langsung prasangkamu itu akan menyeret Miranda ke penjara,” Kata Tina.
”Itu terserah polisi. Kalau bukti-bukti merujuk ke sana dan Miranda tidak punya alibi, memang bisa saja dia masuk penjara.”
”Jangan, Wen. Lebih baik kita tidak usah terlibat dalam masalah ini. Nanti malah kacau. Aku nggak mau lagi terlibat dengan masalah Rudi dan keluarganya.” Kata Tina. ”Kasihan Miranda juga, ’kan?”
”Hukum, ya hukum. Kalau suda salah, biarpun saudara kandung tetap aja harus kita laporkan. Apalagi Miranda yang kita tidak kenal dengan baik.”
”Kamu membuatku takut. Seandainya aku yang melakukan itu apakah kamu juga akan melakukan hal yang sama?” Tina mencoba bercanda dan jadi tergelak sendiri melihat wajah temannya yang sangat serius. Kelihatannya dia memang harus masuk sekolah hukum saja semester depan.
”Nggak usah berandai-andai, ini perkara serius.”
”Tapi keluarga Rudi punya banyak musuh. Bukan hanya Miranda yang menginginkan dia mati. Jangan melupakan kemungkinan itu”
”Ya, sih.” Weni membenarkan ucapan Tina. ”Tapi dengan apa yang aku dengar di pelataran parkir waktu itu aku yakin sekali Miranda adalah pelakunya.”
Tina terdiam lagi.
”Sebenarnya Rudi juga salah, tapi tidak seharusnya dia dihakimi sekejam itu.” Lanjut Weni. ”Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik. Ngomong ke orangtua Rudi misalnya. Siapa tahu mereka mempunyai solusi yang bagus untuk mereka berdua.,”
Dua hari kemudian, nama dan pernyataan Weni muncul di surat kabar bersamaan dengan ditetapkannya Miranda sebagai tersangka. Sejak itu Weni tidak pernah melihat Miranda lagi di kampus. Selama ini, biarpun beda fakultas tapi mereka kadang-kadang tak sengaja bertemu di perpustakaan atau di tempat parkir. Miranda hanya pernah sekali menelponnya. Weni tidak tahu dari mana dia mendapatkan nomer hpnya. Dia tidak bicara banyak, hanya mengatakan, ”Kita tidak saling mengenal dengan baik, aku juga tidak ada dendam denganmu. Kenapa kamu melakukan ini padaku?”
***
”Selamat, ya!” Weni langsung memeluk Tina setelah gadis itu menunjukkan fotonya yang tercetak eksklusif di sebuah majalah wanita terbitan ibukota bersama sederet wajah-wajah cantik lainnya. Di bawah foto Tina tertulis Agustina Prasetyo, 21 tahun, Mahasiswi, Surabaya. Dia terpilih sebagai salah satu finalis.
”Hebat, ya. Kapan ke Jakarta untuk acara finalnya? Kamu pasti bisa ngalahin mereka. Kamu cantik dan sangat berbakat. ” Katanya. Weni tidak henti-henti mencermati halaman majalah itu. Lalu dia duduk di kursi di depan meja rias, sementara Tina duduk di tepi ranjang.
”Thanks. Kamu juga bisa kok ikutan beauty contest kaya gini kalau mau. Kamu aja yang gak aware memiliki wajah cantik, tubuh bagus dan otak brilian.”
”Nggak deh. Males banget mesti mondar-mandir trus dipelototin banyak orang kaya gitu. Aku tidak ada bakat di bidang itu.” Weni angkat bahu. ”Aku sudah bangga punya sahabat yang hebat sepertimu.”
”Makasih, Wen. Kamu memang sahabat yang baik.” Tina meneteskan air mata terharu. Namun, tiba-tiba senyum di wajahnya memudar. Dia duduk dengan wajah lesu. Sementara Weni masih mencermati isi majalah. ”Saat bahagia seperti ini, seharusnya aku bisa berbagi dengan Rudi.” Ucapnya pelan.
Weni menutup majalahnya. ”Kamu masih cinta dia?”
Tina mengangguk. Weni menatapnya serius. Sejak kematian Rudi, Tina memang sering murung dan jadi jarang tertawa. Dia bahkan sering mengigau dan bermimpi buruk. Tidak jarang dia memanggil-manggil nama Rudi dalam tidurnya, meminta agar dia tidak meninggalkannya. Weni juga sering memergokinya tengah malam menangis. Selama hampir 3 tahun berbagi kamar kost dengan Tina, tahun inilah dia mendapati sahabatnya itu sangat tertekan. Weni kini lebih berhati-hati ketika membahas Rudi. Dia tidak ingin sahabatnya lebih terluka. Meskipun Weni tidak begitu menyukai pribadi Rudi, tapi kini dia hampir tidak lagi menyebut kejelekannya di depan Tina.
”Sudahlah, Tin. Biarkan dia tenang.” Dia menepuk bahu Tina dengan lembut. ”Yang sudah terjadi biar terjadi. Rudi sudah tidak bersama kita lagi, relakan saja. Toh pelakunya juga sudah tertangkap. Kamis depan aku akan memberi kesaksian di pengadilan. Akan aku pastikan kesaksianku memberatkan Miranda. Dia layak dihukum berat. Dia tidak hanya membuat anaknya kelak terlahir yatim, tapi dia juga membuatmu kehilangan orang yang sangat berarti.”
”Aku yang membunuh Rudi,”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Tina dan butuh waktu beberapa puluh detik bagi Weni untuk mencerna dan memahami maksudnya. Dia masih belum mengatakan apapun.
”Dia menelpon dan mengajakku ketemu Jum’at malam itu, malam dimana seharusnya aku pulang. Lalu aku teringat dengan ucapan kamu siang harinya, ketika kamu melihat mereka berdua ngobrol di parkiran. Aku sudah merasa tidak enak. Tapi aku tidak menyangka kalau dia betul-betul menunda keberangkatannya ke Belanda sampai tahun depan. Kami ke pantai. Aku yang mendorong tubuhnya dari atas batu karang. Aku tahu betul Rudi tidak bisa berenang. Tidak ada yang mengenal dia sebaik aku. Aku juga yang membakar mobilnya.”
”Kamu ngomong apa, sih?”
”Sebenarnya kami belum benar-benar putus. Kami hanya backstreet lagi sampai orangtuanya bisa menerima aku. Hubungan dia dengan Miranda hanya sahabat, tidak lebih. Mereka sudah saling kenal sejak SMP, waktu mereka masih sama-sama tinggal di Jakarta, jauh sebelum Miranda pindah ke kampus kita. Sudah kubilang Rudi itu sangat baik, Wen.” Tina tidak sanggup menahan air matanya. ”Miranda hamil oleh pacarnya, dia juga menghadapi masalah seperti kami. Keluarganya tidak menerima cowok itu untuk menjadi suami Miranda. Malah tantenya menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya. Kalau kamu pernah bertemu sales eksekutive nya perusahaan tempat aku pernah menjadi SPG part time tahun lalu, itulah pacar Miranda. Dia sekarang dipindahkan ke Jakarta.”
Weni menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, tidak sanggup mengatakan apapun.
”Rudi berhutang nyawa pada Miranda karena dia pernah menyelamatkannya saat kecelakaan. Dia kehilangan banyak darah dan Miranda merelakan darahnya untuk Rudi. Dan, Rudi akan melakukan apa saja untuk membalas budinya.... Rudi sudah membatalkan rencananya ke Belanda meskipun dengan berat hati. Dia bahkan memintaku untuk melupakannya karena dia tidak bisa membiarkan Miranda menanggung penderitaan itu seorang diri.”
”Tina....?”
”Aku khilaf, Wen.” Suara Tina terdengar putus asa.
”Aku marah. Aku cemburu.” Lanjutnya.
”Dia lebih memilih menyelamatkan kehormatan sahabatnya daripada menyelamatkan cinta kami.” Tina sesenggukan, dan suaranya terdengar kalut. ”Tapi aku tidak pernah berniat membunuhnya, atau melibatkan Miranda dalam masalah ini. Dia ada di tempat dan waktu yang salah.” Tina menutupi wajahnya yang basah dengan kedua tangannya. ”Aku sangat mencintainya... Aku melakukan itu karena aku sangat mencintainya.. dan tidak rela dia menjadi milik orang lain.”
Weni lemas di tempat duduknya. Tina adalah orang yang dia kenal sangat baik dan lemah lembut, bahkan pada seekor semutpun dia tidak akan tega untuk melukai. Sebegitu hebatkah kekuatan wanita yang sedang cemburu? Hingga dia bisa membunuh orang yang sangat disayanginya melebihi hidupnya sendiri? Benarkah cinta sanggup melakukan semua itu? Bukankah cinta seharusnya menyebarkan kedamaian di dunia?



