JODOH
Nur Jamaatun Rohmah

Adam sudah beberapa hari ini masuk kerja dengan wajah kusut. Sebagai temannya sejak kuliah dan yang setiap hari menghabiskan jam kerja di tempat yang sama, aku merasa heran. Murung dan tidak bersemangat itu bukan cirri khas Adam. Dia adalah pribadi yang hangat dan percaya diri sejauh yang aku dan teman-teman di sini tahu. Apalagi ketika dia sempat ditegur Pak Prapto, atasan kami karena kinerjanya agak lambat. Sudah 2 bulan berturut-turut grafik penjualan menurun dan lebih rendah hampir 15% dari target. Dia hanya meminta maaf tanpa menjelaskan apa yang terjadi. Jika 3 bulan ke depan dia terus seperti ini sudah bisa dipastikan dia akan dipecat.
“Kamu sakit, ya?” aku bertanya padanya. Hari ini aku berhasil membujuknya untuk makan siang bersamaku di kantin dekat tempat kerja kami. Dia tampak tidak berselera dengan makanan yang dia pesan sendiri. Dia malah menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya dalam-dalam.
“Kalau ada masalah kenapa tidak dibicarakan saja. Kalaupun tidak bisa menemukan solusi setidaknya bebanmu akan terasa lebih ringan.” Aku tahu aku pasti terdengar seperti perempuan. Tapi aku tidak bisa membiarkan orang yang sudah aku kenal bertahun-tahun ini berada dalam kesulitan tanpa aku bisa membantunya.
“Aku dan Isti akan bercerai.” Katanya sambil menghembuskan asap rokoknya. Seolah dengan begitu dia bisa mengenyahkan segala kegundahan hatinya juga. Untung ruangan ini tidak ber – AC dan pengunjung yang memang rata-rata pria diperbolehkan merokok. Aku terkejut. Selama ini Adam dan Isti kelihatan baik-baik saja. Setiap kali ada acara di kantor yang mewajibkan kami membawa anggota keluarga, mereka justru terlihat paling mesra. Pasangan yang menurut teman-teman wanita di kantor paling membuat iri. Aku dan Hana saja tidak seperti itu. Hana, istriku bukan perempuan yang senang menunjukkan kemesraan di depan umum. Padahal kami masih muda dan pasangan baru yang masih dalam suasana honeymoon. Aku juga tahu Adam sangat mencintai istrinya. Perjuangan mendapatkan Isti tidak mudah. Butuh waktu 3 tahun sebelum akhirnya Isti mau menjadi kekasih Adam, dan setahun kemudian mereka menikah pada usia mereka yang ke 24. Aku menyusulnya menikahi Hana 2,5 tahun kemudian karena menunggunya lulus kuliah. Ini adalah tahun ke 3 perkawinan mereka. Aku dan Adam bisa dibilang sangat dekat meskipun istri-istri kami tidak.
“Kenapa harus cerai? Kalau ada masalah bukankah lebih baik dibicarakan dulu dengan kepala dingin. Kalian ‘kan sudah dewasa.”
“Aku melihatnya bersama pria lain.” Katanya. “Di rumahku. Aku melihatnya sendiri dengan mata dan kepalaku,”
“Kamu yakin?”
“Aku tidak sengaja pulang pada jam makan siang karena aku ketinggalan CD untuk presentasi jam 2.”
“Mestinya kamu meminta penjelasan dulu dari Isti, bukan memvonisnya selingkuh secara sepihak. Itu tidak adil namanya,”
Adam membuang pandangannya. “Aku tidak menuduhnya. Dia sendiri yang menceritakan perselingkuhannya dan memintaku segera menceraikannya,”
“Oh,” aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Siapa sangka Isti bisa melakukan itu di rumah suaminya.
Adam mematikan sisa rokoknya di asbak kemudian bangkit berdiri meninggalkan aku. Makanannya bahkan tidak dia sentuh sama sekali. Dia terus bungkam hingga kami kembali ke meja masing-masing.
***
“Wang, kalau misalnya aku meminta bantuan paranormal bagaimana menurutmu?” Tanya Adam padaku beberapa hari kemudian. Kami sedang membicarakan pernikahannya dengan Isti yang tengah di ambang perceraian.
“Untuk melenyapkan kekasih istrimu?”
“Aku tidak sekejam itu. Aku hanya ingin Isti kembali padaku, itu saja. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menghabiskan sisa hidupku tanpa dia.”
Aku memperhatikan ucapannya dengan serius. Adam pasti sudah sangat putus asa. Aku cukup mengenal pribadinya karena sudah bergaul dengannya sejak masih kuliah. Dia sama saja dengan aku, bukan tipe orang yang bisa berhubungan dengan paranormal untuk urusan apapun.
“Kenapa tiba-tiba punya pikiran seperti itu?” tanyaku hati-hati. Adam membuang pandangannya, lalu menarik nafas panjang.
“Kemarin aku bertemu teman SMA-ku. Dia menceritakan keberhasilannya menaklukkan perempuan yang diincarnya dengan bantuan paranormal.”
“Kamu percaya begitu saja? Cara seperti itu konyol sekali dan tidak dibenarkan oleh agama.” Nasehatku. “meski berhasilpun tidak akan bertahan lama.”
“Aku tidak peduli yang penting Isti kembali padaku.”
“Adam, apa tidak sebaiknya kamu relakan saja. Mungkin Isti bukan jodohmu. Kamu ‘kan masih sangat muda, aku rasa banyak perempuan yang mau denganmu meskipun statusmu duda.”
Jujur saja ide tentang meminta bantuan paranormal itu membuatku takut. Aku rasa Adam sudah melangkah terlalu jauh.
“Apa salahnya mencoba? Aku dan Isti pernah saling mencintai. Aku bersedia melakukan apa saja asal dia mau kembali padaku. Aku akan memaafkan semua kesalahannya,”
Nah kalau itu benar-benar Adam yang bicara. Dia memang begitu mudah memaafkan kesalahan orang lain yang dia anggap teman baiknya.
Akhirnya Adam benar-benar melaksanakan niatnya. Aku masih saja sulit menerimanya. Sekitar 2 minggu kemudian ada yang berubah pada Adam. Aku beberapa kali melihatnya sedang tersenyum sendiri sambil bersenandung kecil. Dia kini juga sering mentraktirku makan siang. Sepertinya dia sedang bahagia. Awalnya, aku pikir masalah dengan istrinya telah beres dan usahanya kemarin membuahkan happy ending. Ternyata dugaanku meleset sama sekali. Dia menceritakan tentang sidang perceraiannya yang selesai tanpa proses yang berbelit-belit. Yang lebih mengejutkanku, dia juga mengatakan akan menikahi Retno, paranormal yang telah “membantu”nya selama ini.
“Kamu serius?”
Dia hanya mengangguk sambil tersenyum. “Tidak ada pesta kok, hanya keluarga dan teman dekat saja. Nanti kamu datang sebagai saksi, ya.”
“Kamu sadar nggak, kamu akan menikahi nenek-nenek?”
“Cuma beda 15 tahun apa salahnya? Dia sangat dewasa dan menarik. Dia juga bisa memahami aku. Kamu saja yang belum mengenalnya jadi bisa mengatakan hal itu,”
Wajahnya berubah tegang dan tidak suka.
“Lagipula menikah dengan perempuan yang lebih muda juga hanya membuatku sengsara. Malah tega mengkhianati cintaku.”
“Maksudku…”
“Terima ksih telah meyakinkan aku bahwa Isti bukan jodohku,” katanya, lalu dia bangkit meninggalkanku.
Aku sempat membahas ini dengan Hana istriku. Tapi dia lebih bijak menanggapi masalah ini daripada aku. Menurutnya memang ada sebagian pria yang lebih suka memilih perempuan yang lebih tua sebagai pendamping hidupnya karena banyak faktor. Masa sih? Aku kan laki-laki juga, tapi aku menikahi Hana yang beberapa tahun lebih muda dariku.
“Adam sendiri ‘kan yang mengatakan dia merasa wanita itu memperhatikannya. Dengan begitu Adam merasa lebih nyaman bersamanya secara kejiwaan.”
***
Adam ternyata tidak main-main. Dia benar-benar menikahi wanita itu sebulan kemudian. Aku turut hadir sebagai saksi. Hana terpaksa tidak bisa hadir karena bertugas ke luar kota. Aku sempat khawatir mereka akan kesulitan menyesuaikan diri. Dunia mereka amat berbeda. Adam biasa dengan kehidupannya yang modern, serba mesin, serba computer dan sangat dinamis. Sementara istrinya masih berkutat dengan bunga-bunga dan asap yang baunya misterius. Tidak hanya aku, beberapa teman juga membahas hal itu. Bahkan aku dengar mamanya Adam tidak merestui pernikahan mereka. Beliau merasa ini pernikahan yang aneh. Adam tidak biasanya memutuskan sesuatu yang penting dalam waktu secepat ini.
Dan, setelah pernikahan absurd itu apa yang kami ramalkan ternyata salah, karir Adam justru menanjak. Dia mendapatkan promosi untuk menjadi pimpinan di kantor cabang yang baru. Jauh meninggalkan aku dan kawan-kawan yang seangkatan dengannya. Usianya bahkan belum 30 tahun.
Sejak saat itu hubungan kami mulai renggang. Aku hampir tidak pernah bertemu dia kecuali pada acara perusahaan, di mana dia memiliki posisi lebih tinggi daripada aku. Dia tidak pernah mencoba menjalin komunikasi dengan kami. Kami juga satu per satu mulai melupakan dia.
Sayangnya lonjakan karir Adam yang fantastis itu tidak bertahan lama. Dia kemudian diberhentikan karena terbukti menggelapkan uang perusahaan. Setelah dipecat, Adam dan istrinya membuka rumah makan khas Jawa Timur. Dia ternyata juga sukses dengan usahanya itu. Profil rumah makannya beberapa kali muncul di TV swasta dan majalah-majalah yang aku baca. Benar-benar tidak aku duga sebelumnya. Adam tidak pernah memiliki pengetahuan tentang mengelola rumah makan, apalagi yang sebesar itu. Pengetahuannya tentang makanan juga nol besar. Dia itu andai diberikan 3 mangkok soto dia akan memakan ketiganya tanpa bisa membedakan mana soto Banjar, mana yang soto Lamongan dan mana yang soto Madura. Ternyata kehidupan begitu misterius. Dan mungkin juga aku salah yang terlalu underestimate dia.
***
Jalanan tampak lengang dan pasti licin karena seharian tadi hujan tak henti-hentinya mengguyur kota. Gerimis pun masih turun sesekali dan jalanan berkabut. Dingin terasa menembus jendela-jendela mobil dan menusuk tulang meskipun AC mobil sudah dalam mati. Sejak tadi Hana mengeluh lapar. Kami lupa tidak menyiapkan cemilan jadi sekarang terpaksa harus mencari makan di perjalanan. Sayangnya hal itu tidak mudah dilakukan. Ini sudah hampir tengah malam dan kami tidak tahu ada di jalan apa. Beberapa rumah makan yang kami lewati sepanjang jalan sudah tutup.
“Mas, kita makan di sana saja, ya?” Hana menunjuk pada sebuah warung kecil di pinggir jalan yang ada di depan kami. Aku menimbang-nimbang sejenak. Warung itu kondisinya kurang layak untuk disinggahi pada saat hujan begini. Bisa-bisa dia masuk angin nanti. Hana sepertinya mengerti kekhawatiranku. Tapi dia meyakinkan aku hingga akhirnya aku menyerah, memundurkan mobil dan berhenti di dekat warung itu.
Hujan langsung membasahi baju-baju kami begitu keluar dari mobil. Buru-buru aku menggandeng Hana dan mengajaknya masuk. Kami duduk di sebuah bangku kayu panjang yang sedikit basah dan dingin. Si pemilik warung sedang mencuci piring membelakangi kami.
“Pak, pesen nasi dan teh panas 2 ya,” kataku sambil memperhatikan Hana yang sedang menggigil. Kasihan sekali, dia pasti sudah sangat lapar hingga rela makan di tempat seperti ini.
“Awang? Hana?”
Aku dan Hana serentak mendongak ke arah sumber suara, yang ternyata berasal dari bapak yang kami lihat sedang mencuci piring tadi. Aku menamatkan penglihatanku padanya, aku rasa Hana juga berbuat yang sama. Kami lalu saling pandang.
“Adam?”
Dia mengangguk.
“Kalian kenapa malam-malam di sini?”
“Acara liburan perusahaan tapi kami membawa mobil sendiri karena harus pulang lebih awal. Kami akan ke Semarang untuk satu urusan.” Kataku menjelaskan. “dan tadi macet sekali jadi kami kemalaman di jalan seperti ini,”
Adam menyodorkan 2 piring nasi beserta lauknya dan 2 gelas teh panas. Tapi rasa laparku mendadak hilang.
“Kenapa memandangku seperti itu? Silahkan makan, nanti kalau sudah dingin nggak enak loh,”
“Ya, Tuhan… aku tidak sedang bermimpi kan?” gumamku.
Aku perhatikan tubuh Adam lebih kurus dari beberapa tahun yang lalu, dan juga tampak lebih tua dari usia sebenarnya yang baru 38 tahun. Kami sebaya, aku hanya lebih tua darinya sebulan tapi lihatlah, aku bahkan tampak jauh lebih muda darinya. Akhirnya kami memutuskan untuk membatalkan rencana ke Semarang dan menghabiskan sisa malam bersama Adam.
Dia bercerita kepadaku bagaimana dulu Retno ternyata menjauhkan dia dari Isti dan mengguna-guna agar dia berbalik jatuh cinta pada paranormal itu. Retnolah yang berperan besar pada kemajuan karir Adam. Namun semua itu hanya berjalan selama 7 tahun. Setelah itu hartanya menyusut dan kini dia harus puas dengan hanya menjadi penjual nasi di pinggir jalan.
“Kamu menyesal menceraikan Isti dan kemudian menikahi Retno?”
Adam menggeleng. “Isti bukan jodohku, aku sudah lama merelakan dia pergi,”
“Tapi kamu dengan Retno bahagia, kan?”
Adam menggeleng lagi. “Dia juga sudah pergi, aku tidak tahu ke mana. Ternyata dia juga bukan jodohku.”
“Lalu kamu sekarang tinggal di mana?”
Dia menyebutkan satu nama desa di daerah Yogyakarta. “aku menikah dengan perempuan berhati malaikat, yang mau menerima keadaanku sekarang apa adanya. Ayahnya sudah menyembuhkan aku yang saat itu hampir gila karena tidak bisa menghadapi kenyataan.”
Adam menarik nafas sebentar, lalu melanjutkan ceritanya. “Aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi padaku, semua itu memberiku pelajaran berharga.”
Kami masih menyimak ceritanya baik-baik.
“Tidak disangka aku harus melewati begitu banyak hal untuk menemukan cinta sejatiku dan sampai pada kematangan berfikir seperti sekarang.”
Dia tersenyum mengakhiri ceritanya. Adam memang sudah sangat berubah. Sorot matanya menggambarkan betapa dewasa dan matangnya dia. Dan mendengar ceritanya membuatku sangat bersyukur dengan kehidupanku dan apa yang aku miliki saat ini. Meskipun kami tidak seberuntung Adam yang sudah memiliki seorang anak dari pernikahannya yang sekarang.


