solfaCorners

Saturday, May 19th

Headlines
Solfacorners - Share and Sale
 

Pelangi

User Rating: / 0
PoorBest 

Mae mengayuhkan sepedanya demikian cepat penuh semangat. Hatinya sedang berbunga-bunga wajahnya yang putih kemerah-merahan begitu berseri-seri. Tiba-tiba ia memarkirkan sepedanya di warung kedai milik Paijo karena turun gerimis di siang bolong.

Wajahnya yang tadi terlihat bahagia tiba-tiba berubah muram. Ya, Mae terpaksa menunggu gerimis yang berganti hujan kian deras. Mae hanya bisa memandangi air yang terus jatuh membasahi tanah berbentuk kubangan-kubangan kecil. Ia terjebak hujan tanpa harap bisa berhenti. Janjinya pada sang kekasih tiba-tiba ingin ia tangguhkan. Awalnya Mae ragu untuk bertemu dengannya. Benar-benar sangat ragu, tapi entah kenapa kekuatan itu muncul saat sang kekasih  mengirimkan sms “ingin bertemu di batas kota”.

Tiba-tiba Mae teringat dengan masa lalu. Kali pertama  mengenal sang kekasih hati sepuluh tahun lalu  ketika mereka masih terlihat lugu. Sang Kekasih menggoda Mae di ujung kampus kunonya. Namun saat itu Mae bagaikan gunung es yang sulit mencair, tak dapat digoda walau hatinya tak bisa memungkiri bahwa dirinya punya rasa. Mae selalu menghindar dan menjaga dirinya “Hatiku tak mau teracuni”. Namun setiap ia berusaha melupakannya saat itu pula ia penuh harap untuk menjadi pendampingnya.

Hujanpun mulai sedikit mereda…tiba-tiba ada sms masuk” aku setia menunggu”. Mae hanya bisa mencibir dan menggerutu dalam hatinya “gombal”. Mae mulai mengkayuh sepedanya perlahan. Tapi tak terasa sepedanya telah membawa Mae pada batas kota yang telah ditentukan.

Hatinya jadi tak karuan, haruskah aku seperti ini…padahal dia hanya temanku…sahabatku. Mae melangkahkan kakinya perlahan saat memasuki gerbang stasiun kota.

“Mae…!!”suara khasnya terdengar jelas memanggil. Suara yang pernah akrab di telinganya saat ia selalu menyapa di kampus atau telepon rumah.

Wajah Sang kekasih berseri-seri saat pertama melihat Mae hadir menemuinya kembali di depan stasiun. Mae pun membalas senyuman.

“Mae,…lihat ada pelangi menghias langit! Indah ya….penuh warna ada merah, hijau, kuning, jingga, biru dan ungu.”

Mae mencoba menatap langit tanpa kata…bibirnya kelu. Andai dia tahu, bahwa hatinya pun saat ini penuh dengan warna. Warna yang menghiasi kenangan manis masa lalu dan warna indah saat kini karena dapat bertemu sang kekasih yang lama tak ia jumpai.

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Seiring dengan berpendarnya warna pelangi dan hilangnya matahari saat senja menjelma. Terpaksa perjumpaan itu harus terpisahkan oleh waktu.

“Terimakasih atas waktu dan bantuannya, Mae…..besok aku harus kembali ke negeri kanguru,” kata  terakhir yang terucap sang kekasih.

Mae hanya mengangguk dan tersenyum,” Mudah-mudahan data-data itu bisa membantu penelitianmu.”

***

Mae meninggalkan stasiun kota tua dengan luka yang mendalam. Jantungnya masih berdegup seakan mimpi indah tak kan pernah ia temukan lagi. Setidaknya hatinya pernah penuh warna…warna yang selalu menghiasi kehidupannya. Meski sampai kapanpun ia tak mungkin bisa memiliki sang kekasih…karena ia telah memiliki pasangan hidup pilihannya.

 

http://syarifahbachrum.wordpress.com

Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."