“Berapa banyak yang akan menangisiku?”
“Apakah mereka akan hadir?”
“Apakah mereka akan menangis?”
“Apakah aku begitu dikenal hingga mereka akan hadir dan menangisiku?”
“Apa yang pernah kulakukan untuk mereka?”
“. . . .”
Pertanyaan-pertanyaan itu pernah berkelebat di pikiran Sapto. Lalu tanpa ragu ia tanyakan satu persatu kepadaku, Heidy, sahabat wanitanya. Aku tak dapat menjawab pada saat itu, entah mengapa. Mungkin karena -pikirku itu cuma pertanyaan konyol lantaran ia tidak betah tinggal terlalu lama dirumah sakit waktu ia terkena penyakit typhus karena terlalu giat bekerja. Sapto hanya mencintai dua hal, pekerjaannya dan Sari –kekasihnya pada saat itu.
Sapto adalah seorang manager di sebuah bar terkenal di belahan Jakarta bagian barat –tempatku juga bekerja sebagai asistennya. Sapto seperti tak kenal lelah, selain itu ia terkenal periang dan enerjik. Menurutku, Sapto adalah alasan mengapa orang-orang itu kembali datang dan datang lagi ke bar kami. Orangnya supel dan pandai mengambil hati orang. Senyum tulus selalu terlihat pada wajahnya. Tapi tidak malam itu. Seperti ada beban yang sangat berat yang ia sedang panggul. Senyumnya dipaksakan, gerakannya terberatkan. Aku masih ingat keluhannya –tentang pekerjaan- yang pertama kali kudengar semenjak aku mengenalnya.
Sapto adalah seorang manager di sebuah bar terkenal di belahan Jakarta bagian barat –tempatku juga bekerja sebagai asistennya. Sapto seperti tak kenal lelah, selain itu ia terkenal periang dan enerjik. Menurutku, Sapto adalah alasan mengapa orang-orang itu kembali datang dan datang lagi ke bar kami. Orangnya supel dan pandai mengambil hati orang. Senyum tulus selalu terlihat pada wajahnya. Tapi tidak malam itu. Seperti ada beban yang sangat berat yang ia sedang panggul. Senyumnya dipaksakan, gerakannya terberatkan. Aku masih ingat keluhannya –tentang pekerjaan- yang pertama kali kudengar semenjak aku mengenalnya.
“Ada apa malam ini, Hed?”, Tanya Sapto kepadaku yang sedang meracik Long Island.
“Maksudmu?”, aku balik bertanya tanpa melihat wajahnya.
“Iya, sepertinya ini hari burukku. Aku juga nggak ngerti.”
Sapto menghempaskan tubuhnya ke sofa di depanku. Aku tahu, mungkin semuanya terlalu berat datang dalam satu hari. Tadi pagi dia sms kalau malam sebelumnya ia bertengkar hebat dengan Sari, kekasihnya –sekarang mantan. Enam tahun berakhir begitu saja karena wanita murahan itu yang ternyata telah menduakan Sapto selama setahun. Aku tahu betapa sakitnya hati Sapto, tapi ia seorang professional. Ia tetap datang bekerja –walau aku telah menyarankan untuk ambil libur- dan tak terlihat murung. Bahkan sebaliknya. Sampai beberapa regular guest memakinya tanpa alasan yang jelas. Belum lagi bawahannya yang terlihat memusuhinya. Beberapa saat Sapto masih terlihat mampu bertahan, tapi saat ia menatap lukisan-lukisan yang berjejer rapi di dinding, emosinya langsung labil. Lukisan-lukisan itu adalah pemberian Sari, selama enam tahun telah tertempel 38 buah lukisan. Setiap lukisan seperti menyimpan cerita sendiri. Aku tak tega melihat dia seperti ini, aku menghampiri dan duduk disebelahnya.
“This isn’t like you.. setahuku, kamu bukan tipe orang yang gampang patah arang”, kataku sambil menyeruput minuman buatanku tadi.
“Aku nggak tahu, nih.. kecape’an barangkali”
“Iya, pasti itu alasannya.. ambil cutilah, manjain diri kamu. Kapan terakhir kamu cuti?”
“Mmm dua tahun yang lalu mungkin.. aku lupa.”
“See? You’ve worked harder than my father! Take a break, darling, you deserved it!”
Sapto terdiam, terdiam cukup lama. Tatapannya kosong, seperti sedang menyesali sesuatu. Aku tahu, dia tidak bisa terima kenyataan pahit itu, kenyataan bahwa Sari telah mengkhianatinya.
“Kenapa? Masih mikirin Sari? Ayolah, To.. Kamu jangan bodoh, dia ga bagus buat kamu!”, Aku tak tahu mengapa aku berkata demikian, naluri wanita dan juga sahabat -barangkali.
“Aku masih sayang dia Hed, aku belum bisa ngelupain dia, and I think I’m losing my mind.”
“Setelah apa yang dia lakukan ke kamu? Yeah, you’re losing it!”
“Oke, Hed, aku gak mau berantem ama kamu, nggak hari ini. Ini hari udah berat banget!.”
“Sorry, deh, To.. Aku cuma sayang sama sahabatku aja, kok.”
“Hehe.. Thanks, Hed, You’re the best!”
“Nah, sekarang kamu ikut saran aku, deh.. Ambil cuti kamu, biar bar aku yang handle! Ok?”
“Hmmm, iya, pengen sih.. ah, gampanglah!”, katanya sambil beranjak dari sofa lalu pergi ke toilet.
Aku hanya bisa menatap Sapto yang berjalan malas ke toilet. Entah kenapa perasaanku menjadi aneh. Sulit kuutarakan apa yang kurasakan saat itu. Aneh, hanya itu kata yang paling tepat. Entah mengapa aku jadi iba kepadanya. Sepertinya ini semua terlalu berat, bahkan untuk seorang Sapto. Belum habis tatapanku, David dan Iyya menghampiriku lalu memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan penuh curiga.
“Lu ngomong apa sama dia, Hed??”, Tanya Iyya sambil merapat ke arahku.
“Lu nggak ngebocorin rencana kita kan, jeung??”, David gemulai menunjuk kearahku.
“Ah, nggak.. Semua aman. Tapi gue jadi nggak enak, kayaknya kita keterlaluan, deh!”, Aku mulai ragu akan rencana ini.
Iyya dan David seperti tak perduli kata-kataku, malah terlihat bersemangat menyuruh staff lain dan para guest untuk bersiap-siap. Sementara Iyya bersiap memberi aba-aba, David masuk ke Toilet. Aku bertugas di bagian lampu –yang telah kumatikan atas perintah Iyya. Iyya memastikan sekali lagi scenario yang telah disusun.
“Oke guys, siap ya! Kalo ada yang keluar dari toilet, itu pasti Sapto dan kita langsung teriak SURPRISE!. Ya??”, kata Iyya berbisik keras penuh semangat.
Semua menatap senyum kepada Iyya. Semua siap.
“Hed, lu langsung nyalain lampu ya, begitu semua teriak.. oke?”
Aku juga hanya menatap dan tersenyum.
Cukup lama kami berdiam di kegelapan. Sebentar-sebentar terdengar suara batuk. Samar-samar terdengar derap langkah. Iyya menyiagakan tangannya. Semua nampak sangat siaga. Seseorang keluar dari toilet. Lalu terlihat sosok bingung di kegelapan yang disusul teriakan “SURPRIIIIISE!”, dilanjutkan applause yang ramai dan meriah. Ucapan “Happy birthday” dan “Selamat ulang tahun” seperti melebur menjadi satu. Nyanyian lagu selamat ulang tahun terlantun lantang. Lampu kunyalakan, tapi yang dikira Sapto ternyata David yang berdiri kebingungan dengan celana basah. Kakinya gemetar, mukanya seperti tidak sedang gembira. Ia panik, Lalu berteriak.
“BO.. SAPTO, BO!! SAPTOOOO!!!”
Aku dan yang lain berpikir kalau David sedang bercanda. tapi kelihatannya dia serius. Lalu mukanya mendadak membiru, lalu terjatuh. David Pingsan. Aku yang dari tadi berperasaan tak enak segera berlari ke toilet yang tertulis MEN pada pintunya. Jantungku berdegup sangat kencang. Aku menjerit hebat setelah membuka pintu dan menemukan kaki Sapto terjulur keluar dari pintu kabin kloset yang tertutup dan terkunci. Staff lain membantu mendobrak pintu toilet. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi setelah kulihat kedua pergelangan tangan Sapto berlumuran darah yang serta merta mewarnai lantai toilet basah menjadi merah.
Aku berdiri disini. Aku menangis disini. Semua menangis di pemakaman Sapto. Mereka pikir mereka mengenalnya, mereka pikir aku mengenalnya, kupikir mereka mengenalnya, kupikir aku mengenalnya, tapi tidak. Tak ada yang kenal Sapto. Semua mengenang Sapto yang terkenal periang dan enerjik, tapi nyatanya adalah seorang yang sensitive. Semua yang dikenang hanya kebaikan-kebaikan Sapto. Tak terbesit sedikitpun keburukan. Sekalipun ada, itu hanya menjadi sarana senyum dan hilang bersama maklum. Semua pertanyaan yang dulu tak dapat kujawab telah terjawab.
Aku berdiri disini. Aku menangis disini. Semua menangis di pemakaman Sapto. Mereka pikir mereka mengenalnya, mereka pikir aku mengenalnya, kupikir mereka mengenalnya, kupikir aku mengenalnya, tapi tidak. Tak ada yang kenal Sapto. Semua mengenang Sapto yang terkenal periang dan enerjik, tapi nyatanya adalah seorang yang sensitive. Semua yang dikenang hanya kebaikan-kebaikan Sapto. Tak terbesit sedikitpun keburukan. Sekalipun ada, itu hanya menjadi sarana senyum dan hilang bersama maklum. Semua pertanyaan yang dulu tak dapat kujawab telah terjawab.
Surprise! Ya, malah kau yang memberi kami surprise.
Rencana kami rencana kematianmu.
Teriakan kami suara kematianmu.
Maafkan ke-tidak-peka-an kami Sapto.
Ironis, dihari bahagiamu kami menangis. Selamat ulang tahun, Sapto.


