Dua puluh tahun yang lalu, Nena naik taksi President bersama Ibu, Ayah dan Kakak perempuannya. Ibu mengunyah kacang goreng tak henti-henti, sedang kakaknya sibuk menengok kanan-kiri. Nena berada ditengah keduanya, mirip penyekat ruang atau garis perbatasan, di jok belakang. Tubuhnya yang kurus, kecil, cocok diperlakukan sebagai barang tambahan, seperti novel ringan dalam tas bepergian. Ia terselip diantara tubuh gemuk Ibu dan kakaknya.
Nena melihat lampu-lampu jalan menyala, seperti permen kojak bercahaya. Langit gelap pekat. Manis permen masih tertinggal di mulutnya. dalam saku roknya tersisa dua permen lagi, rasa jeruk dan strawberry. Ia senang dan menyanyi-nyanyi dalam hati lagu Stephanie Mills, Never Knew Love Like This Before. Lagu itu didengarnya tiap pagi dari tape recorder di kamar kakak.
Ayah duduk di sebelah sopir, memandang lurus ke depan. mungkin Ayah sudah berkali-kali datang ke kota ini dan menempuh jalan yang sama. Pemandangan yang sama tak menarik lagi. Kepala botak Ayah menyerap dan memantulkan cahaya dari jalan. Ia memejamkan mata tiap cahaya muncul di kepala Ayah.
Mereka sekeluarga tengah menuju Marcopolo, hotel di saerah Cikini. taksi terus melaju. Tak ada suara. Tapi keadaan ini sementara.
"Ratusan mayat dibuang ke laut," kisah sopir taksi.
"Masa? Mengerikan sekali!" Ibu terperanjat.
"Apa tindakan pemerintah?" tanya Ayah.
"Lho, tentara itu, kan, diperintah," sergah Ibu.
Nena merogoh saku baju, mengambil permen, membuka plastik pembungkusnya, lalu mulai mengisap dan menjilat. Enak. Legit. plastik pembungkus jatuh dibawah kursi. Ia hendak memungut sampah itu, tapi tubuhnya terjepit di sela Kakak dan Ibu. Aaahhhh....
"Pembantaian keji," kata Ayah bernada marah.
"Kenapa dalam film boleh?" tanya Kakak.
"Film itu, kan, bukan betulan, tapi permainan."
"oh..."
"Kalau ini, kan, mati secara paksa," kata Ayah lagi.
Nena terus menjilati permen. Kakak meminta satu, tapi ditolaknya. Permennya tinggal satu. Kakak meminta kacang goren Ibu. Syukurlah, Ia bukan orang pelit, tapi sangat suka permen.
Ayah dan Ibu berubah pikiran. Kakak tak jadi disekolahkan di jakarta, tapi di Bandung. "Mungkin di sana lebih aman. Udaranya juga sejuk," kata Ibu. Kakak tetap ingin sesuai rencana awal, melanjutkan SMA di Jakarta. Banyak temannya yang akan bersekolah di Jakarta. "Kenapa harus ikut teman?" bentak Ibu.
Sopir taksi bercerita lagi. kali ini tentang gali yang mati. "Dia itu memang dikenal suka minta-mintain duit orang yang lewat, mabok-mabokan di jalan," katanya. Pernah tengah malam sopir taksi terbangun karena mendengar suara rintihan dari seberang dinding kamarnya. "Tepat di belakang kamar saya itu gang. Suara kaki orang lewat, orang batuk, orang kentut, orang ngobrol kedengaran jelas. Biasanya, kalau kecapekan, saya udah nggak ingat apa-apa lagi. Nah, ini tiba-tiba saya mendengar orang kesakitan gitu. "Ampun, Pak. Ampun, Pak, katanya, kayak mimpi." Jantungnya bergemuruh. Ia mengenali suara lelaki yang minta ampun itu. Tubuhnya menggigil, "Bayangin aja. istilahnya saya sama dia itu dekat sekali, cuma dipisahin tembok. Kalau tembok itu nggak ada, ambruk gitu, kan, dia tepat di samping saya." Keesaokan harinya, penduduk sekitar gang sempit itu gempar. Mereka melihat mayat menggeletak dengan luka tembak di dada dan kepala. Penembak misterius itu memburu orang-orang bertato di mana-mana.
"Nggak cuma di Jakarta, kan?" tanya Kakak.
"Ya, nggak. Di semua tempat, kok," jawab sopir taksi.
"Artinya, aku boleh sekkolah disini, kan? Toh, orang jahat ada di mana-mana," katanya lagi.
Ibu dan Ayah diam
"Tahun ini, tahun berdarah," gumam sopir taksi, tak jelas pada siapa.
Malam itu merekasekeluarga menginap di hotel, di sebuah kamar di lantai tiga. Nena menyeret kopernya sendiri ke lift, tak mau dibantu pelayan. Didalam koper banyak buku bacaan: Tin Tin, Asterix, Alvin, Lima Sekawan, Trio Detektif dan novel milik Kakak, Carrie karangan Stephen King. Ia merasa tenang membawa buku-bukunya sendiri. Ia kutu buku. Kacamatanya minus 8. Ia dijuluki ‘nenek’ oleh Kakak. Nenek-nenek yang lain sudah almarhumah, dari pihak Ibu maupun Ayah.
Pintu kamar dibuka. Udara Sejuk. Mereka mulai sibuk membuka lemari, meletakkan barang-barang. Ia haus, lalu membuka kulkas, mengambil sekaleng 7up. “Mahal! Beli di luar saja,” teriak Ibu. Ia menaruh kembali minuman itu kedalam kulkas, lalu meneguk segelas air putih gratis dari hotel.
Ayah dan Ibu bergiliran berendam di bathtub. “Kami akan ke Sarinah,” kata Ibu sambil membetulkan gelung rambutnya yang terburai. Ia dan Kakak diminta istirahat di dalam kamar. Kebetulan. Ia ingin suasana lebih tenang. Andaikata Kakak ikut.. lebih asyik. Ia ingin menonton televise sendiri, mengganti saluran sesuka hati. Kakak pasti berkeinginan sama. Mereka bisa bertengkar nanti. Capek. Anehnya, malam itu Kakak berbaring di tempat tidur, memunggunginya. Nena merasa bebas.
Ia menonton film komedi yang buruk di saluran 4. Tokoh-tokohnya makan Havermut sampai muntah-muntah. Ia lebih suka Laverne and Shirley, juga theme song-nya yang riang. Diliriknya tempat tidur Kakak. Kok, Kakak nggak bergerak? Mungkin sudah tidur. Pakaian Kakak masih yang tadi, belum diganti piyama. Ia kini menonton drama percintaan. Lelaki dan perempuan berciuman. Apakah mereka sudah sikat gigi? Ia membuka bungkus permen rasa strawberry.
Menjelang tengah malam, Ayah dan Ibu pulang. Mereka membawa oleh-oleh dua buah boneka yang bisa menyanyi. Twinkle twinkle little star… Nena senang. Kakak bergeming. Ketika Ibu mengguncang-guncang tubuhnya, Kakak berbalik dengan malas. Nena melihat air mata membasahi kedua pipinya.
Sepuluh tahun yang lalu, Nena terbangun dengan mata sembab. Ia kaget mendengar ketukan di pintu kamar. Beker di meja menunjukkan pukul 06.30. Deringnya belum terdengar karena diputar untuk pukul 07.00. Disingkirkannya selimut, lalu berjalan ke pintu. “Nen, kita ikut demo, yuk,” ujar Pipi, teman kuliahnya. Nena kurang suka masak. “demo di mana? Dalam rangka apa? Aku nggak ikut, deh,” Pipi membujuknya, “Ikut aja. Demo di Bundaran HI. Ada tiga media yang dibredel. Solidaritas, dong. Soalnya pacar gue, kan, jadi pengangguran, nih, sekarang.” Pacar Pipi bekerja sebagai redaktur di salah satu media yang dibredel.
Sebetulnya, Nena agak malas. Berteriak-teriak ditengah terik matahari cuma menyengsarakan badan. Tenggorokan sakait. Kulit terbakar. Tapi, ia tak enak pada Pipi. “Jangan pake pantofel atau boot, pake kets aja biar gampang larinya,” pesan Pipi. Lari?
Sebelum berangkat, Ia memasukkan sunglasses dan sekotak permen rasa mint ke tas. Hari masih pagi, pukul sepuluh lewat sebelas. Matahari belum terlalu garang. Nena menuju tempat kos Pipi. Tiga temannya sudah menunggu di situ, termasuk Pipi. Semua pakai sepatu kets. Semula mereka ingin bergabung dengan teman-teman di kampus dan berangkat bersama-sama, tapi Nena mengusulkan sebaliknya. “Berempat aja, deh. Kalau berombongan gitu terus kena cegat gimana. Kalau berempat, kan, gampang. Situasi nggak oke, kita bisa pura-pura belanja di Ratu Plaza, ya window-shopping-lah,” kata Nena. Ya, ya, ya… setuju. Kebulatan tekad sudah diambil. Empat sekawan menentukan nasib sendiri.
Di Bundaran HI, massa sudah berkumpul. Nena dan tiga temannya memutuskan untuk berbaris paling belakang. “Biar gampang lari,” bisik Pipi. Komando lapangan memegang megafon dan memberi pengarahan. Tiap pemimpin kelompok bergiliran berorasi. Lalu lintas macet. Pengemudi mobil membuka kaca jendela mengacungkan jempol. Penumpang bus melongok ke jalan.
Tiba-tiba Nena melihat pasukan berkaos hitam merangsek barisan terdepan. Belum sempat berlari, Nena sudah jatuh terlentang. Orang-orang yang berada di depannya malah menimpa Nena. Ia menjerit kesakitan. Seorang pria di sisinya mendorong punggung Nena, menegakkan tubuhnya. “Lari!” perintah orang itu, entah siapa. Nena lari tunggang-langgang, tak ingat lagi pada Pipi dan teman-teman. Ikat kepala merah yang dibagikan komando lapangan dibuangnya ke jalanan, dilindas roda mobil.
Ia berlari di sela-sela kendaraan, menuju tepi jalan di seberang. Ia berlari kencang. Sebuah bus merayap. Nena menggedor pintunya yang tertutup. Kondektur membuka pintu dan mengulurkan tangan padanya, “Cepat! Cepat!” Para penumpang menyuruhnya duduk dan bersembunyi di kursi belakang. Jantungnya seperti di sentak berkali-kali diselingi denyut keras berirama tetap. Nena tersandar di kursi. Ia melihat seorang perempuan berkerudung dilempar kedalam truk. Kerudungnya terlepas. Ia melihat seorang pria dihajar pentungan. Ia gemetar, kemudian buru-buru mengambil permen di saku tas. Aroma mint yang segar terasa di mulut. Nena kini lebih tenang.
“Kamu, sih, nyuruh-nyuruh aku ikut…” rintih seorang perempuan di dekat Nena.
“Aku, kan, nggak tahu kalau bakal begini,” bujuk pria di sebelahnya.
Mungkin sepasang kekasih, pikir Nena.
“Lain kali aku nggak mau lagi diajak-ajak.”
“Ya, aku minta maaf, deh,”
Perempuan itu memukul-mukul pundak si pria dengan tinjunya, lalu menangis.
“Tega sekali kamu… Bilangnya pawai, karnaval… tahunya sial.”
“Sori…”
Suara mereka terdengar keras. Maklumlah, penumpang sedang terkesima bercampur kaget melihat tragedy di luar sana. Pengamen yang sempat tegang mulai beraksi, memetik gitar dan menyanyikan lagu Andi Liani. Sanggupkah aku hidup bersama denganmu… Mungkinkah aku hidup tanpa ada dirimu… Nena meringis.
Begitu sampai dikamar, Nena langsung mengompres kakinya yang lebam. Pondokan sepi. Ia terpincang-pincang menuju tempat tidur, lalu merebahkan diri dikasur. Penat sekali. Ia ingat belum sempat menelpon ibu. Kadangkala Ia iba pada Ibu. Kadangkala, benci. Ibu selalu menganggapnya masih kanak-kanak. Suatu hari Ia menerima paket berisi permen dan kacang. Padahal, disini banyak makanan kecil seperti itu. Ibu juga berlaku serupa pada Kakak. Sekarang Kakak bekerja sebagai desainer perusahaan mebel dan masih lajang. Sayang sekali, Ayah sudah tak ada. Gara-gara asma. Di televisi tengah diputar film komedi dan Ayah tertawa-tawa melihat adegan lucu, sampai sukar berhenti. Ayah mendadak sesak napas. Tak sampai lima menit, detak jantung Ayah sepi. Ibu histeris. Ia menyesal sering berselisih paham dengan Ayah selama ini. Hal-hal kecil yang belum ditunaikannya membuat Ibu menangis pilu. “Ayah berkali-kali meminta Ibu merepro potret pernikahan kami, tapi Ibu selalu lupa. Ibu juga tak sempat memasakkan gulai ikan kesukaan Ayah. Yang lebih menyedihkan, Ibu tak peduli waktu diminta Ayah ikut senam jantung,” ratap ibu di telepon.
Ia tertidur pulas dan kaget mendengar dering telepon. Siapa? Tangis Ibu terdengar. Ada apa? Ibu melihatnya di televisi. Pertama, ia tengah memegang spanduk. Kedua, ia terbirit-birit di tengah lalu lintas.
“Kalau tahu begini, kamu sekolah disini saja. Kalian membuat ibu susah,” kata Ibu.
“Tenang, Bu. Itu, kan, bagian dari perjuangan. Yang lain lebih parah. Ada yang patah kaki, patah tangan… Ada yang gegar otak, ada yang giginya copot. Jadi, aku termasuk beruntung,” hiburnya
“Beruntung? Semua nggak ada yang menyenangkan Ibu. Kakakmu juga. Pacarnya perempuan.” Ibu menangis lagi.
Nena bingung. Ia hanya berjanji untuk menjaga diri baik-baik. Malam itu ia tiba-tiba merindukan kakaknya.
Nena memesan segelas bir, sedang mulutnya mengunyah permen susu. Kakak dan sang pacar memesan jack Daniel’s. ia tak biasa minum, tapi ingin menyenangkan Kakak di hari ulang tahunnya. Pelayan datang mengantar pesanan. Ia langsung minum seteguk dengan permen masih tetap tersimpan di rongga mulutnya. Matanya beralih dari gelas bir ke tubuh penyanyi diatas panggung. Bergaun ketat, mini. “Tubuh perempuan memang indah,” batin Nena. Ia melihat Kakaknya berdansa. Kakak bertemu Rila, nama sang pacar, lewat situs di internet. Setelah chatting dua bulan, mereka sepakat bertemu. Cinta kilat. Lagu pertama selesai, disusul lagu kedua. Terdengar Never Knew Love Like This Before , lagu Stephanie Mills versi remix. Ia terkesiap. Lagu ini seperti membuka laci-laci kenangan yang terkunci lama. Ketika Nena bersenandung mengikuti lagu, Kakak mendekatinya.
“Ingat lagu ini?”
“Iya… lagu Kakak,”
“Ini, kan, lagu waktu kita cari sekolah untuk aku di Jakarta. Inget nggak?”
“Iya, Inget.”
“Ibu dan Ayah hamper nggak setuju, gara-gara di Jakarta lagi musim orang mati dibunuh. Tahun 1984.”
“Udah lama banget.”
“Kamu tahu nggak… hari ini ada jenderal yang mati?”
“Ya, aku baca di Koran,”
“Nah, dia itu yang hamper ngegagalin aku sekolah di sini!”
Nena terdiam. Ia malah teringat hal lain.
“Kak, sori ya, aku nggak kasih permenku waktu itu.”
“Hah?! Ha ha ha… aku lupa.”
Nena dan kakaknya berpelukan. Dua puluh tahun lalu mereka selalu bertengkar.
Disadur langsung dari tulisan Linda Christanty di Djakarta! Edisi oktober 2004.



