solfaCorners

Sunday, Feb 05th

Headlines
Solfacorners - Share and Sale
 

Gara-gara rambut

User Rating: / 0
PoorBest 
“Tidaaaakk… Jangaaaaannn…”
“Jangan potong kami…”
“Setidaknya jangan sekarang…”
“Kami ingin tumbuh lebih panjang…”

Kalimat-Kalimat itu selalu terdengar. Kalimat-kalimat itu yang selalu diteriakkan oleh rambut-rambut di kepala Toro tiap kali ia melihat Husni melakukan pekerjaannya. Toro adalah seorang tukang nasi goreng yang berjualan didepan kedai pangkas rambut milik Husni.

Toro yang besar di lingkungan militer di Bogor tidak pernah memiliki rambut lebih panjang dari 3cm. Ayah Toro yang seorang pensiunan militer yang sekarang bekerja sebagai sekuriti di sebuah travel agent selalu mewanti-wanti Toro. “Cuma wanita yang boleh punya rambut panjang,” begitu katanya. Dan karena masalah rambut pula Toro memutuskan untuk pergi dari rumah, dari kekangan keras sang Ayah. Toro muak. Toro yang dulunya bocah penurut memberontak.

Sudah dua tahun Toro meninggalkan rumah di Bogor untuk mengadu nasib di Jakarta. Namun Jakarta terlalu kuat untuk diadu oleh nasib siapapun. Alhasil Toro harus puas dengan keadannya sekarang. Tapi ia tidak menyesal, setiap kali ia memandang rambutnya yang kini sebahu lewat kaca spion motor yang ditempel di sudut kiri gerobaknya, ia berbisik dalam hati, “Ah, tampan sekali diriku dengan rambut sepanjang ini.”

“Ah, ku perhatikan dari tadi kerja kau hanya bercermin saja!”
“Hey, Husni..haha.. maklumlah, baru kali ini aku punya rambut sepanjang ini.”
“Mari sini aku rapihkan!”
“Ah, jangan, dong! Ini ku dapat penuh perjuangan!”

Hampir setiap hari Husni menawarkan jasa potong rambut gratis dan tawaran gratis itu selalu saja ditolak Toro. Namun tiap kali husni melakukan pekerjaannya, Toro kangen dengan rambut pendeknya. Rasa kangen pada rambut pendek memunculkan wajah sang Ayah, Toro menggelengkan kepala tiap kali wajah sang Ayah muncul dalam benak.

Saat kedai pangkas rambut sedang sepi, Toro kerap menumpang menonton TV di dalam kedai. Bayarannya sepiring nasi goreng sosis. Saat sedang asik menonton berita, seorang pelanggan datang ingin memotong rambut, tentu saja. Husni segera melayani, menanyakan gaya yang diingini pelanggan lalu memulai keahliannya. “Cepak aja, bang!”, begitu kata si pelanggan. Toro tertegun melihat helai demi helai rambut jatuh ke lantai. Membayangkan kalau itu rambutnya sendiri. Keinginan berambut pendek muncul kembali.

“Tidaaaakk… Jangaaaaannn…”
“Jangan potong kami…”
“Setidaknya jangan sekarang…”
“Kami ingin tumbuh lebih panjang…”
“Tidaaaakkkk… Jangaaaaannn…”

Rambut-rambut kembali ribut, takut. Terdengar di benak Toro yang mulai kalut. Saat itu pula bayangan sang Ayah turut. Kali ini Toro bukan kangen rambut melainkan wajah sang Ayah yang keriput, yang tak pernah memasang senyum lewat mulut. Toro cemberut, seperti ayam yang bulunya di cabut. Toro merengut.

“Ya, selesai, Oom!”
“Wah, memang mantap potongannya si Abang!”
“Hahaha… bisa saja si Oom!”

Toro tersadar dari lamunannya. Matanya kini tertuju pada selembar lima ribuan yang diberi pelanggan tadi ke Husni. Toro kalah penglaris, Toro hanya tersenyum manis sambil menggaruk pelipis. Husni menyadari sikap Toro yang mulai berubah. Sambil membereskan kain coklat dan ceceran rambut di lantai, Husni mulai menasihati Toro.

“Sudah, kamu lebih baik pulang saja sana!”
“Enak saja! Aku belum jualan, kok di suruh pulang?”
“Bukan, maksudku kamu lebih baik menengok keadaan ayahmu!”
“Ah, biar saja… bukan penyakit berat, kok!”
“Jangan begitu! Biar begitu dia tetap ayah kamu!”
“Hmmmhhh…”

Toro mulai jengkel mendengar omongan Husni, dia bangun dari duduknya lalu membakar sebatang rokok, berjalan keluar kedai dan duduk di samping gerobak nasi gorengnya. Dalam ingatannya, kira-kira sebulan yang lalu Rahma, adik perempuannya mengabari lewat sms bahwa sang Ayah jatuh sakit. Terlalu capek katanya. Tapi jangankan pulang, membalas sms sang Adik juga tidak dilakukannya. Nampaknya Toro tidak ingin lagi mendengar segala tentang ayahnya. Masalah rambut menjalar kemana-mana dan melebar menjadi besar. Panggilan seseorang membuyarkan pikiran kesalnya. Sepasang kekasih memesan dua porsi nasi goreng untuk di bawa pulang. Toro bergerak riang, memasak dengan senang. Pikiran tadi perlahan menghilang.

Sebulan telah berlalu. Tiap hari Rahma, sang Adik mengabari Toro lewat sms. Cuma menanyakan kabar Toro dan menceritakan keadaan sang Ayah. “Penyakit Ayah tak kunjung membaik, kak!”, begitu kabarnya sekarang. Dan dari sang Adik, Toro mengetahui biaya berobat sang Ayah datang dari uang pensiun yang dulu ditabung, jumlahnya kini makin menipis. Toro miris, tapi apa yang bisa ia lakukan. Ia hanya seorang tukang nasi goreng.

Pikiran dan perasaan galau mulai meracuni Toro perlahan. Toro tiba di depan kedai pangkas rambut agak malam, tidak seperti biasanya. Husni heran.

“Tumben kau datang jam segini?”
“Aku lagi banyak pikiran”
“Memangnya apa yang kau pikirkan?”
“Ayahku, kelihatannya makin parah…”
“Lalu apa yang kau lakukan disini? Mengapa kau tidak segera pulang?”
“Entahlah.. aku bingung, Aku ingin sekali pulang tapi aku tidak punya uang”

Husni lalu kembali kedalam, ia membuka salah satu laci lemarinya, mengambil sesuatu lalu kembali ke depan kedai.

“Ini, tidak banyak memang, tapi terimalah”
“Apa ini, Husni?”
“Uang, bodoh!”
“Iya, tapi untuk apa?”
“Ah, kau bilang tadi punya uang?”
“Iya…”
“Ya ini, terima saja!”

Dengan lemas Toro menerima pemberian Husni lalu megantonginya. Setelah itu Toro bergegas merapikan gerobaknya dengan niat untuk pulang saat itu juga. Setelah gerobak rapih, Toro pamit pada Husni. Husni menjabat tangan Toro dan mendoakan supaya Toro selamat di jalan. Juga agar Ayah Toro lekas diberi kesembuhan.

Husni jadi ingat waktu Toro pertama kali mangkal di depan kedainya, seorang tukang nasi goreng yang rapih dengan kata-kata yang sopan. Tapi lambat laun kesan rapih menghilang, terhapus oleh rambut panjang yang berantakan. Walaupun kata-katanya masih sopan, tetap mengurangi kesan.

Satu jam kemudian, saat Husni sedang merapihkan sisa rambut yang berceceran, Toro kembali datang. Husni kembali heran.

“Apa yang kau lakukan, Toro? Mengapa kau belum pulang?”
“Aku ada satu permintaan sebelum aku pulang…”
“Apa lagi? Lekas katakan!”
“Anu…”
“Anu apa?”
“Tolong potong rambutku, Husni…”
“Ah, benar! Setidaknya kau pulang seperti kau pergi…”

Dengan cekatan Husni memangkas dan merapikan rambut Toro.

“Tidaaaaaakkkk…”
“Jangaaaaaannnnnn…”

Rambut-rambut kembali berteriak. Toro diam saja, kali ini teriakan itu tak digubrisnya. Ada perasaan haru yang keluar dari dalam dada saat Toro melihat helai demi helai rambut panjangnya berjatuhan. Perasaan yang tak ingin ia rasakan namun tak ingin juga ia singkirkan. Toro menerka untuk memastikan apa yang harus ia lakukan dengan perasaan yang sedang ia rasakan. Toro berpikir ringan. Selama itu Toro terpaku dalam lamunan.

“Ya, sudah!” kata Husni sembari membersihkan rambut yang menempel di pundak Toro. Toro bercermin, ia menemukan sosok yang dulu ia kenal. Rasa rindu pada sang Ayah semakin mengental.

“Aku hutang dulu, ya?”
“Ah, jangan konyol kau! Itu gratis! Masih kaku saja!”
“Terima kasih banyak, Husni…”
“Haha.. lihatlah dirimu, persis seperti dua tahun yang lalu!”
“Iya, aku sendiri pangling… Sekali lagi, terima kasih banyak”
“Baiklah, hati-hati di jalan ya!”

Toro bergegas meninggalkan Husni dan kedainya. Toro memacu langkah demi langkahnya. Entah mengapa saat itu yang ada dipikirannya hanya sang Ayah. Ia merindu. Tapi rasa-rasanya ia masih membencinya. Karena kekolotannya, karena kekerasannya, karena ketegasannya. Toro berkesimpulan, selama dua tahun ia hidup tanpa ada yang mengatur. Bebas. Karena itulah barangkali mengapa ia rindu pada segala hal yang dulu ia benci. Tak terasa air matanya menetes. Toro merasa konyol.

Akhirnya Toro sampai di kampungnya. Toro memaksakan naik ojek agar segera sampai di rumahnya. Sesampainya di rumah, Toro dikagetkan oleh banyaknya sandal dan sepatu yang menggerombol di teras rumahnya. Tanpa pikir panjang Toro segera masuk ke dalam. Di dalam, Toro mendapati keluarganya tengah berkumpul di ruang tamu. Toro tak berpikir untuk bertanya, ia segera masuk ke kamar sang Ayah. Di dalam kamar, ternyata sang ayah sedang terkulai lemas. Matanya setengah menutup. Mulutnya setengah terbuka. Nafasnya setengah memburu. Adik dan ibunya menangis terisak di sampingnya.

“Ibu! Rahma! Ada apa ini? Kenapa Ayah?”
“Ayahmu sudah lama menunggumu, nak!”
“Iya, kak! Mengapa kakak tidak pernah memberi kabar?”

Toro terdiam, ia tak menyangka ulahnya telah membuat sang Ayah menderita sehebat ini. Rahma menceritakan, tiap malam sang Ayah memanggil namanya, “Toro… Toro… di mana kau, nak? Maaf kan Ayah…” begitu cerita Rahma. Ibu hanya bisa menangis mendengarnya. Toro terdiam terpaku. Menyesali semuanya. Tak lama, terdengar suara sang Ayah memanggil.

“Toro… itu kah kau, nak?”

Toro segera menghampiri sang Ayah. Berlutut di samping ranjangnya. Mata sang Ayah perlahan terbuka. Memandang rambut Toro, mata Toro, wajah Toro. Tangannya yang gemetar perlahan mengusap rambut Toro, kepala Toro. Sang Ayah tersenyum. Senyum yang tak pernah ia tampakkan sebelumnya. Senyum yang Toro sudah lupa bagaimana bentuknya.

“Kau tak berubah… Rambutmu bagus, ini baru lelakiku… Gagah!”

Lalu sang Ayah kembali memejamkan mata. Tangannya tetap dikepala Toro. Senyumnya tetap mengembang. Tapi gemetar tangannya tak lagi terasa. Begitu juga nafasnya. Sang Ayah menyimpan senyum terakhirnya untuk Toro. Sang ayah pergi sembari tersenyum.

“Ayah… Maaf…”

Toro menggenggam tangan lemas di kepalanya. Lalu menciumnya. Hanya dua kata itu yang dapat terucap. Rahma dan Ibu menangis. Keluarga yang lain mengucap innalillahi wa ilaihi roji’uun.
Comments
Add New Search
+/-
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

!joomlacomment 4.0 Copyright (C) 2009 Compojoom.com . All rights reserved."