Nenek moyangku seorang pelaut // Gemar mengarung luas samudra // Menerjang ombak // Tiada takut // Menempuh badai sudah biasa
Siapa yang nggak pernah mendengar lagu tersebut? Betapa tidak, dari kecil kita sudah diajari oleh guru kita tentang dendangan lagu itu semenjak kita SD. Tapi apakah kita sadar, ternyata nyanyian itu tidak hanya sekedar nyanyian belaka. Pelaut sangat identik dengan orang-orang yang hidup di daerah perairan atau lebih tepatnya disebut dengan laut. Sama hal nya dengan nelayan, maka pelaut pasti akan mengarungi samudra. Bedanya nelayan hanya mengarungi samudra untuk mencari ikan dan hasil laut lainnya, sedangkan pelaut, mereka hidup di laut, mengarungi samudra selama berbulan-bulan serta menjadi penakluk laut seperti yang lebih akrab di telinga kita beberapa nama seperti Marcopolo dan Colombus.
Pengaruh Marcopolo dan Colombus nampaknya sangat melekat kedalam pribadi teman saya yang satu ini. Seorang Evin Marwan. Dia adalah pelaut. yang sekarang bekerja di sebuah anchor-handling supply vessel yang besar di tengah laut pasifik. 7 tahun sudah ia mengarungi lautan Samudera Pasifik, mencari minyak bumi, menjadi asisten kapten, dan kehilangan kaki kirinya. APA? kaki kiri? ya! dan cerita-cerita menarik sekaligus menegangkan itu dengan senang hati ia ceritakan kepada kami saat tak sengaja berjumpa di daerah fatmawati.
![]() |
Short Biodata
|
Bang Evin, cerita dong gimana bisa sampai jadi pelaut
"Awalnya gara-gara ketemu teman yang sudah jadi pelaut duluan, lantas saya tertarik ingin jadi pelaut juga. Lalu saya cari info lengkap, memenuhi segala persyaratannya dan Alhamdulillah diterima"
Pertama melaut dimana?
"Pertama kali melaut itu di Surabaya selama tiga tahun. Sebentar, tapi sangat berguna! saya benar-benar di gojlok selama di Surabaya"
Wah, berkesan sekali nampaknya?
"Iya, sangat! Mabuk laut saya sembuh di sana. Muntah kuning itu tandanya sembuh"
Muntah Kuning? warnanya memang kuning atau cuma istilah?
"Warnanya kuning! Pokoknya, kalau kamu sudah muntah kuning, kamu nggak akan mabuk laut lagi. Jadi muntah kuning itu sebagai patokan, seperti cacar lah, kalau sekali kena cacar waktu kecil, ketika dewasa kan sudah nggak bakal kena lagi kan? Nah, seperti itu kira-kira, sudah kebal-lah istilahnya"
Setelah Surabya, lantas kemana lagi?
"Saya tugas mengarungi Asia Tenggara, kebanyakan berlabuh di negara Singapura, India, Vietnam dan Thailand"
Ada kesulitan bahasa, seperti Lost in Translation gitu nggak kalo sedang di negara lain?
"Bahasa sih gampang, kami pelaut punya bahasa nasional sendiri, hahaha"
Bahasa Nasional? maksudnya?
"Hahaha, itu joke sesama pelaut, kami namakan bahasa nasional, 'bahasa inggris cari makan', sebenernya bahasa inggris, cuma grammarnya agak berantakan. Jadi seadanya saja, hahaha. Tapi sampai sekarang nggak ada masalah tuh, hehehe. Soalnya, mereka (para penjual makanan dan kebutuhan pokok lain) rata-rata sudah mengerti dengan bahasa 'nasional' kami"
Biasanya makan apa kalau sedang berlabuh di negara lain?
"Gampang! Pertama yang kita cari adalah Nasi Padang! hahaha itu di negara manapun biasanya ada."
Nah, kalo nggak ada Nasi Padang?
"Jarang, biasanya selalu ada. Tapi ada kasus, waktu di India, kami sedikit kesulitan mencari makan. Pengin makan Nasi Padang, tapi di India, sapi itu kan di anggap suci, jadi rendang padang atau makanan yang mengandung daging sapi sangat sulit kami dapatkan. Akhirnya kami makan Nasi Berani"
Nasi Berani? kalo makan itu jadi berani?
"Hahaha bukan, nasi berani itu makanan khas murah meriah di India. Konon kabarnya, Nasi Berani itu berkhasiat meningkatkan vitalitas pria, huahahahaha" <- Yang ia maksud sebenarnya Nasi Briyani, nasi yang dimasak bersama rempah-rempah, sayuran, atau daging. Terkenal di seluruh dunia"
Ooh, jadi berani dalam arti lain ya? hahaha. Lalu, cuma cari makan saja?
"Nggak dong, biasanya kami cari kebutuhan pokok. Seperti pakaian dan kebutuhan pokok lain seperti peralatan mandi dan lain-lain. Pokoknya setiap kali kami turun ke darat, kami mesti siap dengan list belanja kami. Kadang kami sempatkan belanja oleh-oleh untuk sanak keluarga. Seperti mudik lebaran tiap pulang ke rumah, haha"
Suka kangen ya? sama keluarga
"Oh iya dong, tiap tiap saat saya selalu berdoa buat keselamatan mereka. Ada aja deh, pikiran tentang mereka. Biasanya kalo kangen banget, saya telepon mereka"
Oh, ada sinyal di tengah laut?
"Ada, kami nggak pake telepon genggam biasa, kami kalo telepon menggunakan telepon satelit. Itupun dibatasi, sekitar lima menit seminggunya. Kadang waktu segitu kurang cukup, saya suka nggak sadar, tahu-tahu udah lima menit lebih aja. Jadi kena bayar $1 deh, satu menit kena segitu"
Hiburan di kapal ada apa aja, sih?
"Hiburan di kapal lumayan banyak! Ada pingpong, ada televisi yang biasanya buat muter film, bisa karaokean juga. Kami biasanya karaokean dangdut koplo.. Hahahaha.. Trio Macan rulez! Favorit saya. Secara di kapal itu laki-laki semua, biar nggak 'melenceng', ya kita mesti lihat yang indah-indah dong!"
Lho emang ada yang 'melenceng' di kapal?
"nggak ada, normal semua. Kalau ada pun udah kami iket dan kita buang ke laut! Hahaha, becanda lho!"
Eh, kalo di darat, susah nggak sih, mengenali sesama pelaut?
"Gampang. Kami bisa tahu dari gayanya, baik gaya bicara, maupun gaya pakaian, agak susah kalo dijelaskan. Satu yang pasti, hampir semua pelaut itu memakai Levi's 501"
Ooo gitu ya? Vin, kecelakaan itu ceritanya gimana?
"Ya bisa di bilang ini memang apesnya saya, sebelumnya saya beberapa kali 'ditandai'. Mungkin ini akhirnya, tapi saya termasuk beruntung hanya kehilangan kaki, bisa diganti kaki palsu. Teman saya kehilangan kepala, musti cari kepalapalsu dimana? Jadi ceritanya gini, suatu saat kami sedang berlabuh di lautan Vietnam, Tiba-tiba kapal kami di hantam oleh badai taifun. Vietnam memang sudah langganan di terpa badai semacam itu. Nah, mungkin karena panik, komunikasi antar crew jadi nggak bagus. Ada kabel yang tebalnya 1 inchi yang terlepas dan menyambar kaki saya"
Ouch, terus?
"oh, saya nggak berasa sama sekali saat itu, saya terpental cukup jauh. Saya lihat kaki kiri saya sudah nggak ada, genangan darah tebal sudah tercampur air. Lantas saya pingsan. Lalu saya dibawa chopper ke Hanoi, ibukota Vietnam. Setelah di ronsen dan diberi pertolongan pertama, Saya kembali lagi dibawa chopper ke Thailand karena sarana di Vietnam kurang mendukung. Setelah dirawat dua bulan di Thailand, saya di bawa ke RS Fatmawati, Jakarta. Sebulan saya disana, sekalian terapi kaki palsu (sambil menggetok kaki palsunya)."
Sewaktu kecelakaan itu, keluarga ada yang tahu?
"Kalau tahu langsung nggak ada. Setelah di Thailand, Ayah saya yang datang melihat keadaan saya. Karena istri saya belum punya passport. Tapi ayah saya bilang, Istri saya panik dan histeris, tapi jadi cukup tenang setelah mendengar kabar dari ayah saya"
Wah, suatu pengalaman yang mengerikan itu. Kapok melaut?
"Haha Bintang saya pisces, saya memang cocok di air! hahaha. Nggak kapok sama sekali. Justru saya masih ingin kembali melaut. Tapi kondisi fisik saya nggak memungkinkan, akibatnya saya akan pindah divisi ke bagian administrasi saja"
Nah, pas pulang ke Idonesia ada yang berubah nggak?
"Oh, banyak! beberapa kali saya merasa pangling, beberapa kali saya merasa asing. Seperti orang tersasar! haha tapi bagus kok ini berarti perkembangan toh?"
Omong-omong perkembangan, di antara beberapa negara berkembang yang sudah dikunjungi, lebih baik mana dibanding Jakarta?
"Wah,janganlah dibandingkan dengan Jakarta, nanti saya salah omong, bisa marah orang Jakarta!"
Oke, Yang paling aja deh
"Hmm kalo yang paling nyaman itu Brunei, di sana banyak pohon jadi adem! orangnya pun murah senyum, hampir miriplah dengan orang Indonesia. Kalau untuk kebersihan itu Singapura paling bersih, paling disiplin. Tapi masyarakatnya nggak bersahabat. Tampangnya jutek-jutek. Intinya di setiap negara atau kota manapun pasti ada baik buruknya"
Trus kan sekarang udah dirumah, udah jalan kemana aja?
"Belum, masih kangen-kangenan aja sama orang rumah. Biasanya juga gitu, kalo pulang setelah 6 bulan, saya kebanyakan menghabiskan waktu dirumah paling kali jalan yang deket-deket aja (tiba-tiba handphonenya bunyi, istrinya ada di ujung telepon)"
Wah, Istri langsung kangen nih?
"Iya nih, biasa malem minggu! hahaha"
Oke deh kalo gitu, Thanks banget ya udah bagi-bagi cerita!
"Wah sama-sama!"



